Senin, 07 Februari 2022

JANGAN MENYEPELEKAN DOSA DAN MAKSIAT



JANGAN MENYEPELEKAN DOSA DAN MAKSIAT
.
Ambil pelajaran dari seseorang yang dihadapkan pada 3 dosa, berzina, membunuh, minum khamr. Lantas seseorang itu menimbang dosa dengan akalnya dan mengambil dosa terkecil yaitu minum khamr. 
.
Lantas apa yang terjadi?
Setelah minum khamr, akalnya hilang. Ia berzina lalu membunuh. Berkumpullah semua dosa padanya.
.
Bagaimana dengan dosa riba?
Sama. Dipandang sepele padahal 1 pintu teringan dari dosa riba adalah menzinahi 36x ibu kandungnya sendiri (bagi lelaki). Belum lagi pintu terberatnya dari riba.
.
Bunga (Riba)
Terlihat harum, tapi jelas haram.

#NasihatHariIni
#SelfReminder
#Pekanbaru
#Riau

Minggu, 06 Februari 2022

Nu Amoorea


Sebenarnya pakai Nu Amoorea itu berapa menit sihh?? 
Ada yg bilang 1 menit, 
Ada jg 2-3 menit, ada yg bilang jg hanya tempel Bilas.. 🤔🤔

Nii ku jelas in tahapannya ya..😊😊

Tahapan pemakaian sabun Nu Amoorea,,
#pertama kita tanya kan riwayat kulit nya, klo si cust riwayat nya pernah pakai krim racik.. sebelum memakai Nu Amoorea harus ada masa utk netralin kulit nya dulu, 
tahap ini cara nya si cust harus lepas krim racik, pemutih, dll selama minimal 3-6 hari sebelum penggunaan Nu Amoorea. 
tujuan nya biar cust sadar klo stelah penggunaan krim tsb dilepas akan timbul efek kaya beruntusan jerawat, flek hitam semakin banyak, itu bukan kesalahan Nu Amoorea tp dr krim tsb.

Setelah tahapan diatas, baru deh masuk #Tahap_1 :
Busa hanya ditempel lalu bilas tdk didiamkan.
Lakukan tahap ini selama seminggu pertama. Jk dlm seminggu tdk muncul reaksi purging. Maka lanjut ke tahap 2. Tp klo muncul reaksi purging.. tetap tempel bilas hingga reaksi hilang, baru masuk tahap berikutnya.

Lanjut ke #tahap_2
Busa ditempel secara rata diamkan maksimal 1 menit 
Lakukan ini selama seminggu.
Setelah seminggu pemakaian coba cek apakah ada keluhan purging? Seperti kulit kusam, kering, beruntus, jerawat. bila anda Tetap LANJUT di tahap ini, sampai keluhan tersebut hilang. paling ga sudah ga ada timbul keluhan baru, baru lanjut ke Tahap berikutnya:
Busa ditempel secara rata diamkan 2 menit ya.. coba test lagi selama 2-3 hari apakah ada keluhan seperti diatas bila tdk ada teruskan ditahap ini, bila masih ada keluhan balik ke tahap 1menit.
Begitu seterusnya hingga nyaman di 3menit.

Dan #Tahap_3 adalah Tahap maintenance 
Ditahap ini dimana kulit kita udh Bagus udh glowing 
Busa mulai diturunkan kembali dr 
3 menit ke 2 menit dan 1 menit dgn harapan hasil ny sama dg hasil menit terbaik kita.

Kalo masih bingung jg bisa tanya" saya 
Wa 0821-7223-2384

Sabtu, 05 Februari 2022

Benarkah Kepemimpinan Perempuan Lebih Mampu Mencegah Korupsi?


Benarkah Kepemimpinan Perempuan Lebih Mampu Mencegah Korupsi?


Menjadikan perempuan berperan sebagai agen untuk memberantas korupsi ternyata juga dikampanyekan oleh global, bahkan menjadi bagian dari kampanye kesetaraan gender. Benarkah menjadikan perempuan sebagai pemimpin perusahaan akan mencegah korupsi?

Penulis: Arum Harjanti


Muslimah News, FOKUS — Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir sedang menambah porsi kepemimpinan perempuan di jajaran direksi dan komisaris perusahaan milik negara. Alasannya, kesetaraan gender dapat menjadi bagian dari upaya checks and balances atau kontrol untuk menekan risiko korupsi.

Kesetaraan gender menjadi salah satu langkah Kementerian untuk melakukan transformasi terhadap human capital di ekosistem BUMN. Kementerian BUMN menargetkan 25% kursi pemimpin BUMN terisi perempuan sampai 2023. Hingga akhir 2021, baru 15% direksi BUMN dipegang oleh perempuan yang tersebar di berbagai klaster perusahaan negara,[1] Menteri Erick rupanya sedang membentuk BUMN yang lebih inklusif.

Wakil Menteri BUMN Pahala Nugraha Mansury mengatakan Kementerian BUMN juga membangun komunitas Srikandi sebagai wadah pimpinan perempuan dan para perempuan agar dapat saling mendukung. Ia percaya perempuan bisa dan berhak menjadi apa pun, termasuk pemimpin di BUMN.[2]

Benarkah menjadikan perempuan sebagai pemimpin perusahaan akan mencegah korupsi?

Gerakan Perempuan Antikorupsi

Penambahan porsi kepemimpinan perempuan di BUMN sepertinya sedang menguatkan narasi bahwa perempuan antikorupsi. Jauh sebelumnya, sudah ada program Saya Perempuan Anti-Korupsi (SPAK) yang merupakan program KPK dan dikampanyekan sejak 22/4/2014 dan dicanangkan sebagai gerakan nasional pada 21/4/2015.

Gerakan ini mendorong perempuan melakukan upaya pencegahan korupsi.[3] Fokus utama peran perempuan dalam memberantas korupsi adalah melakukan perubahan, perbaikan diri pada keluarga, serta cara mendorong perilaku yang baik di sekitarnya.

Kemen PPPA dan KPK juga telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) tentang penguatan peran perempuan dalam upaya pemberantasan tindak pidana korupsi.[4] Perempuan dapat menjadi agen-agen pencegahan korupsi agar terwujud Indonesia yang bebas dan bersih dari korupsi dengan menjadi roda penggerak pencegahan korupsi dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga.[5]

Menjadikan perempuan berperan sebagai agen untuk memberantas korupsi ternyata juga dikampanyekan oleh global, bahkan menjadi bagian dari kampanye kesetaraan gender. Narasi yang dibangun adalah bahwa korupsi dianggap memberi dampak berbeda terhadap perempuan dan laki-laki. Perempuan sering mengalami diskriminasi sosial, budaya, politik, dan kelembagaan, juga menghadapi lebih banyak represi dan pengucilan sosial dalam masyarakat yang dilanda korupsi.

Oleh karena itu, tindakan antikorupsi perlu responsif gender untuk memfasilitasi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Ada studi menunjukkan bahwa perempuan yang diberdayakan—yang berkesempatan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan—adalah aktor kuat yang dapat berkontribusi memerangi korupsi.[6]

Hal ini dikuatkan Laporan Bank Dunia 1999 yang menyatakan pemerintahan dengan lebih banyak perwakilan perempuan sering kali lebih kecil kemungkinannya untuk korupsi karena fakta bahwa perempuan “lebih layak dipercaya dan berjiwa publik daripada laki-laki”.

Perempuan dipandang memiliki toleransi yang lebih rendah terhadap korupsi dibandingkan laki-laki karena mereka percaya ada lebih banyak korupsi di sektor publik maupun swasta. [7]

Selain itu, banyaknya pemimpin perempuan dianggap mencerminkan akuntabilitas dan transparansi dalam tata kelola pemerintahan yang lebih demokratis. Pemberantasan korupsi juga menjadi “langkah penting menuju pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan”.[8]

Perempuan dalam Pusaran Korupsi

Nyatanya, perempuan juga pelaku korupsi yang ternyata cukup banyak di Indonesia. Bahkan, politisi muda perempuan pun menjadi tersangka korupsi pada usianya yang masih muda, yakni 24 tahun.[9]

Ada juga Mantan Ketua Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Amarta, Desa Patas, Kabupaten Buleleng, Bali, dengan dugaan melakukan tidak pidana korupsi hingga Rp511,6 juta.[10]

Tahun-tahun sebelumnya ternyata juga ada perempuan menjadi pelaku korupsi, baik pelaku turut serta tindak pidana korupsi suaminya ataupun pelaku utama. Laporan Integrito, majalah yang diterbitkan KPK mencatat 46 perempuan terjerat kasus korupsi sejak 2006—2016 dengan bermacam-macam latar belakang profesi, mulai pejabat pemerintah, anggota DPR, hakim, jaksa, pegawai swasta, hingga ibu rumah tangga.[11]

Yang lebih mengejutkan lagi adalah hasil riset Indonesia Corruption Research (ICR) tentang Indeks Persepsi Perempuan terhadap Kasus Korupsi di Indonesia dalam Survei terhadap Perempuan di 34 Provinsi pada 2021.

Survei tersebut menemukan 46% perempuan Indonesia permisif dengan perilaku korupsi, menilai korupsi adalah hal lumrah dalam budaya bermasyarakat di Indonesia. Bahkan, kepedulian perempuan terhadap pemberantasan korupsi baru mencapai skor 59. Indeks ini menggambarkan masih belum cukupnya kepedulian kaum perempuan terhadap kasus-kasus korupsi yang marak terjadi hingga kini.[12]

Oleh karenanya, harapan pemimpin perempuan mampu mengurangi angka korupsi sepertinya perlu ditelaah lagi. Menggantungkan harapan pemberantasan korupsi pada pemimpin perempuan hanyalah ilusi.

Adalah salah anggapan bahwa kehadiran pemimpin perempuan mampu mencegah korupsi. Apalagi berbagai studi terbaru justru mendapati bahwa pelibatan perempuan dalam politik sebagai alat untuk mengurangi korupsi tampaknya bukan pendekatan yang definitif dan berhasil.[13]

Dengan demikian, peningkatan pemimpin perempuan dalam BUMN bukanlah solusi tepat untuk memberantas korupsi, bahkan sekadar ambisi untuk mengikuti arahan global dalam mewujudkan kepemimpinan perempuan.

Akar Masalah Korupsi

Berbagai kasus korupsi yang terjadi sesungguhnya membuktikan bahwa korupsi bisa dilakukan siapa saja, baik perempuan maupun laki-laki. Oleh sebab itu, upaya untuk mencegah korupsi tidak mungkin terwujud dengan memosisikan perempuan dalam posisi kepemimpinan. Bahkan, tidak boleh mengartikan pemberdayaan perempuan sebagai “obat mujarab” pemberantasan korupsi. Ini karena pada faktanya perempuan tidak selalu kurang korup daripada laki-laki, serta bahwa perempuan sendiri bisa terlibat dalam perilaku korupsi ketika ada kesempatan.[14]

Tindakan korupsi terjadi karena sikap mental materialistis dan konsumtif di masyarakat, serta sistem politik yang masih mendewakan materi. Ada banyak faktor yang saling terkait sehingga korupsi bisa terjadi. Bahkan, terjadinya korupsi tidak bisa terpisah dari faktor internal pelaku dan faktor eksternal yang sangat kompleks, baik sikap masyarakat terhadap korupsi maupun aspek ekonomi dan politik.[15]

Semua itu bermuara pada pandangan hidup sekuler yang menjadi asas kehidupan saat ini. Inilah sejatinya penyebab mendasar korupsi terus terjadi, bahkan di negeri muslim dan banyaknya regulasi tentang korupsi.

Sekularisme mengakibatkan manusia meninggalkan aturan Allah dan menjadikan dirinya sebagai pihak penentu aturan. Sekularisme inilah yang melahirkan segala peraturan mengikuti hawa nafsu manusia, termasuk nafsu serakah menguasai harta yang dikuasakan kepadanya untuk dikelola.

Walhasil, jadilah korupsi—yang sejatinya adalah kejahatan luar biasa—menjadi lumrah, bahkan dilaksanakan secara berjemaah, mulai dari pegawai rendah hingga pejabat pemerintahan, tidak hanya laki-lakim tetapi juga perempuan.

Sekularismelah yang memberikan ruang karena menafikan penerapan aturan Allah dalam kehidupan. Agama hanya ditempatkan dalam ruang privat. Jadilah individu dikuasai kerakusan sehingga menghalalkan segala macam cara.

Pun demikian halnya masyarakat, membiarkan kejahatan merajalela. Sementara, negara menjadikan regulasi sekedar diundangkan, tetapi mandul dalam penerapan, bahkan banyak cara untuk melegalkan kejahatan di mata undang-undang.

Inilah buah demokrasi dan kapitalisme yang lahir dari sekularisme. Oleh karenanya, korupsi tidak akan mampu dilawan dengan kepemimpinan perempuan dan penerapan kesetaraan gender karena sumber masalah ada pada sistem kehidupan yang sedang berjalan saat ini.

Islam Memberantas Korupsi secara Tuntas

Islam mengharamkan segala bentuk korupsi bagi siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan. Korupsi adalah satu kejahatan yang ada sanksinya dari negara dan juga kemaksiatan yang akan dibalas dengan siksa di akhirat.

Allah Swt. berfirman dalam QS Al -Baqarah: 188 yang artinya,

“Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim, dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui.”

Islam juga memiliki cara jitu untuk mencegah korupsi. Akidah Islam sebagai asas kehidupan akan menjadikan individu bertakwa dan amanah. Akidah ini juga melahirkan kesadaran bahwa setiap kejahatan akan adanya sanksi di akhirat kelak.

Keimanan yang terpancar pada setiap individu akan menjadi benteng yang menghindarkan diri dari kejahatan ini. Setiap individu merasa cukup dengan rezeki yang Allah berikan dan jauh dari sikap rakus dan tamak terhadap harta.

Masyarakat dengan budaya amar makruf nahi mungkar tidak akan membiarkan korupsi terjadi. Di sisi lain, negara juga memiliki sistem kuat dan komprehensif yang mampu menutup semua celah untuk melakukan korupsi.

Selain sanksi yang tegas dan menjerakan, negara memiliki sistem ekonomi yang kuat sehingga setiap kebutuhan hidup individu rakyat tercukupi dan mendapatkan penghasilan layak. Semua itu akan terwujud dengan penerapan aturan Islam kafah oleh negara dalam bangunan Khilafah Islamiah. Wallahualam. [MNews/Gz]


[1] https://bisnis.tempo.co/read/1551394/erick-thohir-sebut-kesetaraan-gender-di-kursi-bos-bumn-bisa-cegah-korupsi/full?view=ok

[2] https://www.google.com/amp/s/amp.wartaekonomi.co.id/berita388004/bukti–nyata–erick–thohir–ciptakan–kesetaraan-gender-di-bumn

[3] https://acch.kpk.go.id/id/berkas/saya-perempuan-antikorupsi/92-mengenal–gerakan–saya–perempuan-anti-korupsi–spak

[4] https://nasional.kompas.com/read/2021/04/21/12503721/kpk-harap-kemen-pppa-kerja-sama-dengan-sayap-perempuan-anti-korupsi.

[5] https://nasional.kompas.com/read/2021/04/21/12062891/kpk-harap-perempuan-jadi-agen-perubahan-dan-roda-penggerak-pencegahan

[6] https://anti-corruption.org/themes/anti-corruption-womens-empowerment/

[7] https://issat.dcaf.ch/Learn/Resource-Library/Policy-and-Research-Papers/Are-Women-Less-Corrupt

[8] https://news.un.org/en/story/2021/12/1107812

[9] https://www.liputan6.com/news/read/4864260/nur-afifah-balqis-bendahara-umum-dpc-demokrat-jadi-koruptor-termuda

[10] https://news.detik.com/berita/d-5909518/eks-ketua-bumdes-amarta-patas-bali-jadi-tersangka-korupsi-rp-5116-juta

[11] https://www.viva.co.id/berita/nasional/1008545-infografik-wanita-wanita-pejabat-terjerat-korupsi

[12] https://www.krjogja.com/berita-lokal/diy/sleman/riset-icr-temukan-fakta-banyak-perempuan-indonesia-korupsi/

[13] https://issat.dcaf.ch/Learn/Resource-Library/Policy-and-Research-Papers/Are-Women-Less-Corrupt

[14] https://www.apec.org/docs/default-source/Publications/2021/4/The-Role-of-Women-Empowerment-in-Anti-Corruption/221_PSU_Policy-Brief-39_Gender-and-Corruption.pdf

[15] https://klc.kemenkeu.go.id/faktor-penyebab-korupsi/

Moderasi


Moderasi agama secara garis besar adalah paham keagamaan yang moderat.

Moderat adalah paham keagamaan (Islam) yang sesuai selera Barat; sesuai dengan nilai-nilai Barat yang notabene sekuler (memisahkan agama dari kehidupan).

Follow @palembangbersyariahid

Hari Raya Itu...


Hari Raya Itu..
.
Ibnu al-Mubarak rahimahullah pernah bertanya kepada seorang ahli ibadah, "Kapan Hari Raya Anda?" Ia menjawab:

كل يوم لا أعصى الله فيه فهو يوم عيد

"Setiap hari yang di dalamnya saya tidak bermaksiat kepada Allah, itulah hari raya."

[Sumber: Adab ad-Dunya wa ad-Din, jilid 1, hlm. 131]

Jumat, 04 Februari 2022

Keutamaan Mengoreksi Penguasa


Keutamaan Mengoreksi Penguasa

Amar makruf nahi mungkar secara umum adalah wajib, termasuk di dalamnya amar makruf nahi mungkar kepada penguasa.

Penulis: Yahya Abdurrahman


Muslimah News, FOKUS TSAQAFAH — Abu Said al-Khudzri berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Jihad yang paling afdal adalah menyatakan keadilan di hadapan penguasa yang zalim.” (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ad-Dailami).

Imam at-Tirmidzi meriwayatkan hadis di atas dengan redaksi di awalnya, “Inna min a’zhami al-jihâd kalimatu ‘adl[in] (Sungguh di antara jihad yang paling afdal adalah menyatakan keadilan)…”

At-Tirmidzi berkomentar, “Dalam bab ini ada dari Abu Umamah. Ini adalah hadis hasan garib dari jalur ini.”

Imam an-Nawawi di dalam Riyâdh ash-Shâlihîn menilai hadis ini sebagai hadis hasan. Syekh Nashiruddin al-Albani menilai hadis ini sahih.

Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ahmad (hadis no. 11442), al-Hakim di dalam Al-Mustadrak (hadis no. 8543), Abu Ya’la di dalam Musnad-nya, al-Humaidi dalam Musnad al-Humaydi dan  al-Qudha’i dalam Musnad Syihab al-Qudha’i dari jalur Abu Said al-Khudzri al-Baihaqi di dalam Syu’ab al-îmân, ath-Thabarani di dalam Mu’jam al-Kabir dari jalur Abu Umamah ra. dengan redaksi,

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

“Jihad yang paling afdal adalah menyatakan kebenaran di depan penguasa zalim.” (Ath-Thabarani).

Ibnu Majah meriwayatkan redaksi ini dari Abu Umamah ra. yang berkata: Seorang laki-laki pernah mengajukan pertanyaan kepada Rasulullah saw. pada jamrah al-ûlâ, “Ya Rasulullah, jihad apakah yang paling afdal?” Beliau diam. Ketika ia melihat jamrah ats-tsâniyah, ia bertanya lagi, tetapi beliau tetap diam saja. Ketika beliau melempar jamrah al-‘aqabah, beliau meletakkan kaki beliau di injakan kaki pelana untuk naik hewan tunggangan. Beliau lalu bersabda, “Di mana orang yang bertanya tadi?” Orang itu menjawab, “Saya, ya Rasulullah.” Beliau bersabda, “Kalimatu haqq[in] ‘inda sulthân[in] jâ’ir[in] (Menyatakan kebenaran di depan penguasa zalim).”

An-Nasai dan Ahmad juga meriwayatkan dari jalur Thariq bin Syihab al-Ahmasi bahwa seorang laki-laki pernah bertanya kepada Rasulullah saw., “Ayyu al-jihâd afdhal (Jihad apakah yang paling afdal)?” Beliau menjawab, “Kalimatu haqq[in] ‘inda sulthân[in] jâ’ir[in] (Menyatakan kebenaran di depan penguasa zalim).”

Syekh Nashiruddin al-Albani menilai riwayat An-Nasa’i sahih. Imam an-Nawawi di dalam Riyâdhu ash-Shâlihîn juga menyatakan hal senada.

Al-Munawi di dalam Faydh al-Qadîr menjelaskan hadis di atas. “Afdhalu al-jihâd, yakni termasuk bagian dari jenis afdhal al-jihâd (jihad yang paling afdal) dengan makna secara bahasa bersifat umum. 

Kalimatu haqq[in] secara idhâfah dan boleh juga di-tanwin. Dalam riwayat at-Tirmidzi, ‘adl[in] menggantikan kata haqq[in]. Yang dimaksud kalimat adalah al-kalâm (ucapan) dan apa saja yang posisinya seperti posisi al-kalâm seperti tulisan.

Al-Mubarakfuri di dalam Tuhfah al-Akhwadzi menjelaskan riwayat at-Tirmidzi,

“… Kalimatu ‘adl[in], yakni kalimatu haqq[in], seperti dalam riwayat. Maksud kalimat itu adalah ungkapan atau apa yang serupa maknanya, seperti tulisan dan semacamnya, yang mengandung perintah tentang kemakrufan atau larangan atas kemungkaran. ‘Inda sulthân[in] jâ’ir[in], yakni penguasa yang keji dan zalim. Al-Khathabi berkata, yang demikian menjadi afdhalu al-jihâd tidak lain karena orang yang memerangi musuh ada di antara harapan dan rasa takut, tidak tahu apakah menang atau kalah. Adapun teman penguasa itu tertindas di tangan penguasa jika ia menyatakan kebenaran dan memerintahkan kemakrufan kepada penguasa itu sehingga ia bisa terancam binasa dan menghadapkan dirinya pada kebinasaan. Karena itu yang demikian menjadi jenis jihad yang paling afdal. Al-Muzhhar mengatakan, tidak lain lebih afdal karena kezaliman penguasa berlaku pada semua orang yang ada di bawah pemeliharaannya. Jika ia melarang penguasa dari kezaliman, maka ia telah memberikan manfaat kepada banyak orang, berbeda dengan memerangi orang kafir.”

Keutamaan amar makruf nahi mungkar kepada penguasa juga dinyatakan dalam sabda Rasul saw. yang lain,

سَيِّدُ الشُّهَدَاءِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، وَرَجُلٌ قَامَ إلَى إمَامٍ جَائِرٍ فَأَمَرَهُ وَنَهَاهُ، فَقَتَلَهُ

“Pemimpin para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthallib dan laki-laki yang berdiri di hadapan penguasa yang zalim lalu ia memerintah penguasa itu (dengan kemakrufan) dan melarangnya (dari kemungkaran), kemudian penguasa itu membunuh dirinya.” (HR Al-Hakim dan Ath-Thabarani).

Al-Munawi di dalam Faydhu al-Qadîr menjelaskan, “Wa rajul[un] qâma ilâ imâm[in] jâ’ir[in] fa amarahu (dan laki-laki yang berdiri di hadapan penguasa yang zalim dan memerintah pengusa itu) dengan kemakrufan; wa nahâhu (dan melarang penguasa itu) dari kemungkaran; fa qatalahu (kemudian penguasa itu itu membunuh dirinya) karena perintah dan larangannya itu. Jadi, Hamzah adalah pemimpin syuhada dunia dan akhirat, sementara laki-laki yang disebutkan adalah pemimpin syuhada di akhirat karena dia telah membahayakan apa yang ada pada dirinya, yakni nyawanya sendiri.”

Amar makruf nahi mungkar secara umum adalah wajib, termasuk di dalamnya amar makruf nahi mungkar kepada penguasa. Hadis ini menunjukkan keutamaan amar makruf nahi mungkar kepada penguasa yang zalim.

Rasul saw memasukkan aktivitas itu sebagai bagian dari afdhalu al-jihâd. Pasalnya, hal itu menunjukkan kebulatan tekad orang yang melakukannya, kekuatan iman, dan ketegarannya di hadapan penguasa zalim yang destruktif dan tirani yang kediktatorannya sudah dikenal, tanpa takut terhadap tirani dan kekuasaannya.

Dengan itu ia telah menghadapkan jiwanya dalam bahaya tirani penguasa zalim itu. Dengan itu pula ia telah menjual dirinya kepada Allah Swt.. Dia mengedepankan perintah dan hak Allah daripada hak dan kepentingannya sendiri.

Selain itu, kebaikan dan keburukan penguasa itu akan menentukan baik dan buruknya masyarakat. Sebabnya, sikap dan kebijakan penguasa itu berpengaruh kepada semua orang yang ada di bawah kekuasaannya.

Jika penguasa zalim, rusak, dan merusak, niscaya masyarakat juga rusak. Oleh karena itu, amar makruf dan nahi mungkar terhadap penguasa juga mengantarkan pada baiknya masyarakat dan mencegah rusaknya masyarakat banyak selain menghindarkan masyarakat dari kezaliman.

Dari situ terlihat jelas keutamaan amar makruf nahi mungkar kepada penguasa zalim. Tidak aneh jika ini termasuk afdhal al-jihâd.

Dalam riwayat Jabir dan Ibnu Abbas dinyatakan, jika orang terbunuh karena melakukan amar makruf nahi mungkar kepada penguasa zalim ia mendapatkan pahala seperti pahala syahid. Bahkan, di akhirat termasuk pemimpin para syuhada seperti Hamzah bin Abdul Muthalib. [MNews/Gz]

Sumber: al-waie.id


HANYA ISLAM YANG BENAR


*BULETIN DAKWAH KAFFAH – 211*
16 Safar 1443 H/24 September 2021 M


*HANYA ISLAM YANG BENAR*

Baru-baru ini, Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) Letjen TNI Dudung Abdurachman melontarkan suatu pernyataan kontroversial. Kata dia, jangan terlalu fanatik dalam beragama. Sebabnya, kata dia, semua agama benar di mata Tuhan (Lihat: _Pikiran-rakyat.com_, 15/9/21).

Beberapa waktu sebelumnya, Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas meminta agar doa semua agama dibacakan di acara-acara Kementerian Agama (Lihat: _Cnnindonesia.com_, 5/4/21).

Munculnya dua pernyataan pejabat negara di atas, meski dalam waktu yang berbeda, sesungguhnya mengusung semangat yang sama, yakni pluralisme agama. Sebetulnya ungkapan-ungkapan senada sudah lama kita dengar. Para pengusung pluralisme agama biasa melontarkan sejumlah jargon seperti: “semua agama benar”, “tidak perlu ada klaim kebenaran”, “jangan terlalu fanatik dalam beragama”, “fanatisme beragama mengancam persatuan”, “toleransi beragama harus dijunjung tinggi”, dst. 

Dalam praktiknya, pluralisme agama saat ini sudah mengarah pada sinkretisme (pencampuradukan) agama-agama. Contohnya adalah adanya acara doa lintas agama, Perayaan Natal Bersama, dll.

Pertanyaannya: Bagaimana seharusnya umat Islam menyikapi gagasan, praktik sekaligus propaganda pluralisme agama ini? Benarkah semua agama sama? Benarkah demi toleransi beragama umat Islam perlu ikut-ikutan doa lintas agama, Perayaan Natal Bersama, dll?


*Hanya Islam yang Benar*

Setiap Muslim tentu wajib menegaskan bahwa hanya Islam yang benar. Agama di luar Islam semuanya salah/batil. Ini adalah keyakinan dasar sekaligus mutlak di dalam Islam. Karena itu pernyataan bahwa “semua agama benar” adalah pernyataan menyimpang dari Islam. Pelakunya bisa murtad. Sebabnya, Allah SWT sendiri menegaskan bahwa hanya Islam agama yang Dia akui dan ridhai:

)إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ( 

_Sungguh agama (yang diakui) di sisi Allah hanyalah Islam_ (QS Ali Imran [3]: 19).
Maknanya, menurut Imam as-Samarqandi, _“Inna ad-dîna al-mardhiyya ‘indalLâh al-Islâm_ (Agama yang Allah ridhai hanyalah Islam).” (As-Samarqandi, _Bahr al-‘Ulûm_, 1/249).
Dengan kata lain, menurut Imam al-Alusi, _“Lâ dîna mardhiyya ‘indalLâh illâ al-Islâm_ (Tidak ada agama yang Allah ridhai kecuali Islam).” (Al-Alusi, _Rûh al-Ma’âni_, 2/456).

Imam al-Baghawi lebih menegaskan lagi bahwa makna _“inna ad-dîna”_ dalam ayat di atas adalah, _“Inna ad-dîna al-mardhiyya ash-shahîh_ (Sungguh agama yang diridhai dan yang benar)”, yakni di sisi Allah SWT, hanyalah Islam (Lihat: Al-Baghawi, _Ma’âlim at-Tanzîl_, 2/18). 

Imam al-Baghawi lalu menukil dua ayat berikut:

)الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا(

_Pada hari ini telah aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah aku cukupkan nikmat-Ku atas kalian dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama kalian_ (TQS al-Maidah [5]: 3).

)وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ(

_Siapa saja yang mencari agama selain Islam tidak akan pernah diterima agama itu dari dirinya dan di akhirat kelak dia termasuk ke dalam kaum yang merugi_ (TQS Ali Imran [3]: 85).

Karena itu menganggap semua agama sama tentu bertentangan dengan al-Quran. Anggapan tersebut juga sangat tidak masuk akal. Sebabnya, jika semua agama benar, apa perlunya Rasulullah saw. bersusah-payah —bahkan dengan mempertaruhkan segalanya, termasuk nyawa beliau— mendakwahkan Islam selama 23 tahun kepada para pemeluk agama lain? Apa pentingnya beliau mengajak kaum Yahudi, Nasrani dan kaum musyrik agar masuk Islam dan meninggalkan agama mereka? Rasulullah saw. bahkan bersabda:

«أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ الْإِسْلَامِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ»

_Aku diperintahkan (oleh Allah SWT) untuk memerangi umat manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah; juga agar mereka menegakkan shalat dan menunaikan zakat. Jika mereka melakukan hal demikian maka darah dan harta mereka terpelihara dariku, kecuali ada alasan yang dibenarkan oleh Islam, dan perhitungannya diserahkan kepada Allah_ (HR al-Bukhari dan Muslim).

Selain itu, bukti bahwa hanya Islam agama yang benar, sementara selain Islam adalah salah/batil, adalah banyaknya celaan di dalam al-Quran terhadap pemeluk agama Yahudi, Nasrani maupun kaum musyrik. Allah SWT memandang mereka sebagai kaum kafir. Allah SWT, misalnya, berfirman:

)لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ( 

_Sungguh telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah Al-Masih putra Maryam_ (TQS al-Maidah [5]: 72).

)لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ(

_Sungguh telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah ‘Yang Ketiga’ di antara yang tiga. Padahal tidak ada Tuhan kecuali Tuhan Yang Satu (Allah)_ (TQS al-Maidah [5]: 73).

Bahkan Allah SWT memandang kaum musyrik sebagai najis:

)يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَذَا(

_Wahai orang-orang yang beriman, sungguh kaum musyrik itu najis. Karena itu janganlah membiarkan mereka memasuki Masjid al-Haram setelah tahun mereka ini_ (TQS at-Taubah [9]: 28).


*Perlakuan Terhadap Non-Muslim*

Islam jelas mencela dan mengecam kaum kafir baik Yahudi, Nasrani maupun kaum musyrik. Di akhirat kelak mereka ditempatkan di tempat yang paling buruk, yakni di Neraka Jahannam. Allah SWT berfirman:

)إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ(

_Sungguh orang-orang kafir dari kalangan Ahlul Kitab maupun dari kalangan kaum musyrik akan ditempatkan di Neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya. Mereka adalah seburuk-buruknya manusia_ (TQS al-Bayyinah [98]: 6).

Namun demikian, dalam hal perlakuan terhadap mereka di dunia, Islam tetap bersikap toleran. Islam, misalnya, tidak pernah memaksa mereka untuk masuk Islam. Allah SWT berfirman:
)لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ(

_Tidak ada paksaan dalam (memeluk) agama Islam_ (TQS al-Baqarah [2]: 256).

Di dalam naungan Negara Islam (Daulah Islam atau Khilafah Islam), mereka pun diperlakukan setara dan adil sebagai warga negara. Tidak ada diskriminasi. 

Namun demikian, toleransi Islam terhadap pemeluk agama lain bukan berarti mengakui kebenaran agama mereka. Sebagaimana telah dijelaskan di atas, Islam tetap memandang agama-agama selain Islam adalah batil. Apalagi jika toleransi beragama dipahami sebagai pluralisme (menyamakan semua agama) yang menjurus pada sinkretisme (pencampuradukan) dalam praktik beragama. Jelas, ini tercela. Allah SWT menegaskan:

)لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ(

_Untuk kalian agama kalian. Untukku agamaku_ (TQS al-Kafirun [109]: 6).

Menurut Imam as-Samarqandi, ayat di atas berkaitan dengan tawaran kaum Quraisy kepada Nabi Muhammad saw., “Jika engkau mau, kami akan mengikuti agamamu dan meninggalkan agama kami selama satu tahun. Namun, engkau pun harus mengikuti agama kami (dan meninggalkan agamamu, _red_.) selama setahun.” Lalu turunlah ayat ini (As-Samarqandi, _Bahr al-‘Ulûm_, 4/445).

Jelas, Surah al-Kafirun ini (dari awal sampai akhir), secara keseluruhan menolak paham pluralisme atau sinkretisme beragama.


*Damai Tanpa Pluralisme*

Tanpa harus mempraktikkan dan mempropagandakan pluralisme agama yang sesat dan menyesatkan, sejarah selama berabad-abad telah membuktikan betapa besarnya toleransi Islam dan kaum Muslim terhadap pemeluk agama lain. Islam hanya mengajak orang-orang non-Muslim agar masuk Islam. Tanpa paksaan sama sekali. Saat mereka menolak, Islam tak lantas membenarkan kaum Muslim untuk memberangus keyakinan agama mereka. Sepanjang era Kekhilafahan Islam, dengan sikap toleransi yang luar biasa, orang-orang non-Muslim bisa hidup damai di tengah-tengah masyarakat Islam. Tanpa diskriminasi dan rasa takut. Itulah yang digambarkan oleh para sejarawan Barat. Di antaranya Sir Thomas Walker Arnold.

Menurut Sir Thomas Walker Arnold, sepanjang sejarah, sikap toleran sudah mewarnai hubungan antara kaum Muslim dan non-Muslim. Dalam bukunya, _The Preaching of Islam. A History of Propagation of the Muslim Faith_, dia mengomentari besarnya penghargaan Islam terhadap prinsip toleransi. Bahkan menurut dia, kaum non-Muslim menikmati toleransi yang begitu besar di bawah aturan penguasa Muslim (khalifah). Padahal pada saat yang sama Eropa masih belum mengenal toleransi sama sekali. Barat baru menyemarakkan tenggang rasa antar dan internal umat beragama belakangan ini pada zaman modern.

Lebih lanjut, Sir Thomas mengungkapkan, ketika berabad-abad lamanya para penguasa Muslim (para khalifah) berkuasa, banyak sekte Kristen yang dibiarkan hidup, berkembang dan bahkan dilindungi aturan Negara (Khilafah Islam) (_Republika.co.id_, 22/10/2018).

Alhasil, sekali lagi, tanpa harus mempraktikkan dan mempropagandakan pluralisme yang sesat dan menyesatkan, Islam telah membuktikan sebagai agama yang toleran, dan kaum Muslim adalah pemeluk agama yang paling memahami toleransi.

Karena itu jika ingin umat beragama rukun, damai dan saling bertoleransi, tanpa diskriminasi, kuncinya satu: terapkan ideologi dan sistem Islam. Dengan kata lain: terapkan syariah Islam secara _kaffah_ dalam seluruh aspek kehidupan. Sebabnya, hanya Islamlah satu-satunya agama yang pasti membawa rahmat bagi dunia (_rahmatan lil ‘âlamîn_). Salah satunya mewujudkan kehidupan antar umat beragama yang damai dan harmonis. _WalLâhu a’lam_. []


*Hikmah:*

Rasulullah saw. bersabda:

الإِسْلاَمُ يَعْلُو وَلاَ يُعْلَى

_Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari Islam_. (HR ad-Daruquthni). []

MEWASPADAI BAHAYA KOMUNISME

*BULETIN DAKWAH KAFFAH – 212*
23 Safar 1443 H/01 Oktober 2021 M


*MEWASPADAI BAHAYA KOMUNISME*

Setiap bulan September kaum Muslim di negeri ini selalu diingatkan dengan tragedi pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1965. Saat itu PKI, dengan menggunakan Pasukan Pengawal Presiden Tjakrabhirawa, melakukan kudeta dengan menculik dan membunuh 7 perwira tinggi TNI. 

Peristiwa yang terjadi pada bulan itu hanyalah rangkaian dari gerakan makar kelompok komunis di Tanah Air. Secara bertahap para pengikut komunis/PKI melakukan berbagai intimidasi, pelecehan agama bahkan kekerasan dan pembunuhan yang menentang ideologi komunisme, terutama yang berasal dari umat Muslim. Ribuan Muslim, khususnya santri dan kiai, diculik dan dibunuh secara keji. 

Karena itu kaum Muslim harus selalu mewaspadai penyebaran ideologi sesat ini. Apalagi belakangan muncul keinginan segelintir orang yang ingin menghidupkan lagi paham tersebut.


*Komunisme Tidak Mati*

Sebuah ideologi tidaklah punah dari muka bumi selama masih ada penganutnya. Begitu pula dengan Komunisme. PKI memang telah dibubarkan dan dinyatakan sebagai partai terlarang. Komunisme, sebagai ideologinya, juga sudah dilarang. Namun, simbol-simbolnya sering dijumpai di masyarakat. Berbagai pertemuan dan kajian seputar komunisme juga terus berlangsung. Malah ada seorang anggota DPR yang orangtuanya anggota PKI secara terbuka membuat buku berjudul _Aku Bangga jadi Anak PKI._

Mereka juga melakukan sejumlah langkah agar komunisme dan PKI bisa kembali eksis di Tanah Air. _Pertama_, memutarbalikkan sejarah. Para pendukung komunisme paham bahwa umat Muslim di Tanah Air trauma dengan kekejaman PKI. Untuk itulah mereka melakukan upaya memutarbalikkan sejarah. Sering mereka menyatakan bahwa mereka justru korban, bukan pelaku pemberontakan. Mereka juga mengklaim banyak anggota dan simpatisan PKI yang dibunuh oleh aparat maupun oleh umat Muslim. 

Pada 2016, di Jakarta diselenggarakan Simposium Kerukunan Nasional yang diselenggarakan Lemhanas. Dihadiri sebagian besar eks PKI dan para pendukungnya. Mereka menyuarakan bahwa PKI tidak bersalah. Mereka menuntut Pemerintah RI untuk meminta maaf, melakukan rehabilitasi dan memberikan kompensasi kepada anggota PKI yang menjadi korban pada tahun 1965.

Tindakan ini menutupi fakta kalau PKI telah melakukan pembunuhan secara sistematis terhadap siapa saja yang dianggap musuh, terutama umat Islam. Pada tahun 1948, di bawah pimpinan Muso, Amir Sjarifuddin dan DN Aidit, PKI melancarkan serangan terhadap umat Muslim. Pondok-pondok pesantren seperti Pesantren Takeran dan Gontor diserang dan dirusak. Kitab al-Quran dirobek atau diinjak. Kitab-kitab kuning juga turut dimusnahkan. Ribuan warga, terutama kiai dan santri, aparat keamanan dan aparat Pemerintah, dieksekusi dengan cara keji. Jasad mereka dibuang ke berbagai tempat, termasuk ke dalam sumur-sumur dalam keadaan sudah dirusak. 

_Kedua_, berupaya mencabut TAP MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 yang melarang keberadaan PKI dan paham komunisme. Berkali-kali sejumlah kalangan mendesak pencabutan tersebut dengan alasan rekonsiliasi nasional, maka negara harus mengayomi semua pihak termasuk para penganut ideologi komunisme. 

_Ketiga_, menyerang Islam dan para ulama lurus. Sejak ideologi komunisme berdiri, permusuhan dan kebencian diarahkan pada Islam dan kaum Muslim. Tokoh-tokoh pendiri komunis seperti Lenin ataupun Stalin menampakkan permusuhan terhadap agama. Usai Revolusi Bolshevik, Lenin dan Stalin membunuh jutaan Muslim, termasuk imam masjid dan ulama di seluruh wilayah kekuasaan mereka. Masjid-masjid dan madrasah ditutup. Ada juga yang dijadikan kandang babi oleh pemerintah komunis. Pengajaran agama Islam sudah jelas dilarang.

Di Tanah Air, pada masa Orde Lama (Orla), kebencian PKI dan para pendukungnya terhadap umat Islam dan ormas-ormasnya ditampakkan dengan menghina ajaran Islam seperti membuat pentas seni dengan judul _Matine Gusti Allah_ dan _Gusti Allah Mantu_. Tokoh-tokoh PKI juga menghasut Pemerintah Orla untuk membubarkan Partai Islam Masjumi dan menangkapi tokoh-tokohnya. Sejumlah ulama dan tokoh Islam seperti Buya Hamka, M Natsir dan KH Sholeh Iskandar dipenjara tanpa pengadilan. Selain mengalami penyiksaan di dalam penjara, keluarga mereka juga dimiskinkan atas perintah rezim Orde Lama.

Kini, berbagai serangan dan hinaan terhadap ajaran Islam kembali marak. Penghinaan terhadap bendera tauhid. Cacian terhadap para santri penghapal al-Quran. Tuduhan terhadap Islam sebagai agama kearab-araban. Sebutan ‘kadrun’ atau kadal gurun. Menentang penerapan syariah Islam. Memusuhi hukum jihad dan kewajiban khilafah. Tragisnya, tak sedikit kaum Muslim yang ikut-ikutan menyerang agama mereka sendiri. Dalihnya adalah membela Tanah Air dari ajaran asing, yang tidak sesuai dengan budaya bangsa.

Kecemasan umat juga bertambah dengan berkali-kali terjadi serangan terhadap para mubaligh dan ustadz di Tanah Air. Serangan terhadap ulama, mubaligh dan tokoh Islam kini berulang terjadi. Semua pelakunya dinyatakan sakit jiwa. Apakah serangan ini adalah kebetulan belaka? Sementara seorang tokoh intelijen, Soeripto, mengatakan bila orang gila bisa digerakkan untuk melakukan operasi penyerangan.


*Kembali pada Islam*

Dengan menelusuri sejarah kita akan melihat bahwa menguatnya komunisme di Tanah Air disebabkan oleh dua hal: _Pertama_, adanya pembiaran terhadap ideologi komunisme hingga terus berkembang. Termasuk membiarkan berbagai sikap anti ulama lurus, anti syariah, anti Tuhan, juga adu domba antar kelompok masyarakat.

_Kedua_, komunisme berkembang karena kelemahan pemahaman Islam di tengah umat dan kurangnya kesadaran politik Islam. Tidak sedikit muslim yang menganut ideologi komunisme dan memperjuangkannya tanpa tahu kebatilan dan kesesatannya.

Komunisme adalah ideologi batil, sesat dan bertentangan dengan ajaran Islam baik dengan akidah maupun syariatnya. Begitupula haram hukumnya bergabung dengan kelompok yang menganut dan memperjuangkan komunisme. Dasar dari paham komunisme adalah materialisme, yakni meyakini materi sebagai asal kehidupan, dan menolak Allah sebagai al-Khaliq. Bahkan komunisme mengajarkan kebencian pada agama dan pada umat beragama. Ideologi ini menghalalkan kekerasan untuk perubahan masyarakat, terutama menyerang dan membunuhi para ulama.

Sementara itu Islam adalah agama dan sistem kehidupan yang sempurna. Mengatur seluruh aspek kehidupan. Seorang muslim juga wajib mengimani tidak ada agama, aturan dan ideologi yang diterima Allah kecuali Islam. Allah SWT berfirman:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

_Sungguh agama (yang diterima dan diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam_ (TQS Ali Imran [3]: 19).

Imam Ibnu Katsir menerangkan: Ayat ini merupakan kabar dari Allah SWT bahwa tidak ada agama seseorang yang diterima di sisi-Nya selain Islam (Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, 2/25).

Dengan demikian haram seorang Muslim yang mengaku beriman, mengerjakan shalat dan shaum, tetapi meyakini komunisme sebagai sistem kehidupannya, atau aturan politik dan ekonominya. Sebab, Allah SWT telah memerintahkan setiap Muslim untuk mengamalkan seluruh syariah Islam secara totalitas. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

_Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata bagi kalian_ (TQS al-Baqarah [2]: 208).

Demikian pula haram hukumnya bagi umat membela ideologi selain Islam seperti komunisme dan kapitalisme, haram pula menyebarkannya, memfasilitasi ide-ide mereka, apalagi ikut-ikutan memusuhi agama Islam. Allah SWT. mengingatkan:

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آَبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ

_Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka_ (TQS. Al Mujadilah : 22)

Selain komunisme, sesungguhnya umat juga sedang terancam oleh ideologi kapitalisme yang sudah mencengkeram negeri ini. Kapitalisme-liberalisme, melalui para pengusungnya, menyebabkan berbagai kekayaan alam dikuasai asing. Negeri ini juga dijajah lewat utang luar negeri. Pada saat yang sama, kehidupan sosial umat dihancurkan dengan budaya liberalisme semisal perzinaan dan LGBT, dll.

Wahai kaum muslimin! Sadarlah, bahwa berbagai keburukan yang menimpa umat pada hari ini disebabkan umat telah menjauh dari Islam, merasa cukup dengan ibadah dan akhlak semata, tapi enggan berislam secara _kaffah_. Inilah pangkal kerusakan umat yang sebenarnya. Padahal Allah berfirman:

وَاَنَّ هٰذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُ ۚوَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِه ۗذٰلِكُمْ وَصّٰىكُمْ بِه لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

_Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa_ (TQS. al-An’am: 153)
Karenanya, bila umat ingin selamat dari ancaman komunisme, juga kapitalisme-liberalisme, kembalilah pada Islam _kaffah_. Islam harus kembali diterapkan dan dijadikan sistem kehidupan. Hanya Islamlah satu-satunya sistem kehidupan yang mulia dan diterima Allah SWT.

_WalLahu a’lam._ []


*Hikmah:*

Allah SWT berfirman:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا

_Dialah (Allah SWT) Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia menangkan atas seluruh agama. Cukuplah Allah sebagai Saksi._ (TQS al-Fath [48]: 28).

MELAWAN ISLAMOPHOBIA


*BULETIN DAKWAH KAFFAH – 230* 
02 Rajab 1443 H-4 Februari 2022 M


*MELAWAN ISLAMOPHOBIA*

Banyak orang mulai sadar bahwa negeri ini tidak sedang baik-baik saja. Korupsi makin menjadi-jadi. Penguasaan lahan (termasuk hutan) dan SDA yang makin brutal oleh segelintir pemilik modal. Banyak BUMN yang bangkrut. Banyak proyek infrastruktur mangkrak atau terancam mangkrak. Infrastruktur yang sudah jadi pun ada yang ‘tak berguna’, seperti Bandara Kertajati di Majalengka. Ada juga infrastruktur yang kemudian terpaksa dijual atau berencana dijual, seperti beberapa ruas jalan tol, sebagaimana diwacanakan Pemerintah. 

Persoalan lainnya, harga kebutuhan pokok masyarakat makin mahal. Yang terbaru minyak goreng. Padahal negeri ini penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. Utang luar negeri makin menumpuk hingga mencapai ribuan triliun rupiah. Di dunia usaha, banyak pengusaha skala kecil dan menengah yang terpuruk. Banyak terjadi PHK. Otomatis angka pengangguran pun makin tinggi. Selama Pandemi Covid-19, angka kemiskinan juga meningkat. Di tengah berbagai keterpurukan ini, Pemerintah malah mengesahkan rencana pemindahan ibukota baru ke Kalimantan dengan rencana biaya ratusan triliun rupiah dari APBN. Tentu sebagiannya dari utang dan pajak rakyat. Rencana ini disinyalir hanya untuk memenuhi nafsu segelintir kaum oligarki, yang cengkeramannya makin kuat. Sama sekali bukan untuk kepentingan rakyat.

Anehnya, di tengah segudang masalah yang membelit negeri ini, yang selalu dipersoalkan adalah radikalisme. Seolah-olah permasalahan utama bangsa ini adalah radikalisme. Seolah-olah solusi atas semua keterpurukan ini —kemiskinan, korupsi, bangkrutnya BUMN, menumpuknya utang luar negeri, banyaknya pengangguran, dll— adalah dengan memberantas radikalisme. Tentu saja tidak nyambung.

Sebagaimana diketahui, ‘nyanyian radikalisme’ atau ‘jualan isu radikal-radikul’ kembali dimainkan. BNPT, misalnya, baru-baru ini merilis pernyataan ratusan pesantren yang dituding radikal. BNPT juga berencana melakukan pemetaan terhadap masjid-masjid. Lagi-lagi demi mencegah radikalisme. Sebelumnya, terjadi ‘razia’ oleh Densus 88 terhadap ratusan kotak amal yang dituding terkait pendanaan terorisme/radikalisme. Kemenag sebelumnya juga rajin bicara tentang pentingnya moderasi agama, yang tentu tidak jauh dari niat melawan radikalisme. Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) baru-baru ini menerbitkan buku yang intinya juga perang melawan radikalisme. Pada saat yang sama, keganasan KKB di Papua yang bahkan telah membunuh puluhan anggota TNI, juga warga sipil, tidak dianggap sebagai teroris. Mereka bahkan diklaim sebagai ‘saudara’.


*Politis dan Dipaksakan*

Yang pasti, semua ‘nyanyian radikalisme’ atau ‘jualan isu radikal-radikul’ menyasar Islam dan kaum Muslim. Karena itu korban dari isu radikalisme adalah Islam dan kaum Muslim. Buktinya, atas nama perang melawan radikalisme, sebagian ajaran Islam dikriminalisasi. Contohnya ajaran Islam tentang syariah _kâffah_, jihad dan khilafah. Demikian pula kriminalisasi atas sejumlah tokoh umat yang berujung pemenjaraan, seperti HRS, HBS, Gus Nur, dll. Selain itu beberapa kelompok Islam non-kekerasan seperti HTI dan FPI dibubarkan. Lagi-lagi karena dianggap radikal.

Jelas, isu radikalisme—di tengah keterpurukan negeri ini—adalah isu politis dan tampak sangat dipaksakan. Sama sekali tidak relevan dan tidak penting. Menjadi pertanyaan apakah ini pengalihan semata, yakni mengalihkan perhatian masyarakat dari kegagalan rezim dalam mengatasi berbagai persoalan, khususnya persoalan ekonomi?

Di sisi lain, istilah _radikalisme_ terkesan sengaja dibuat tidak jelas. Tujuannya tentu supaya mudah digunakan sebagai alat untuk memukul siapapun yang anti rezim. Faktanya, begitu mudahnya tokoh Islam atau kelompok Islam dicap radikal hanya gara-gara kritis terhadap rezim.

Karena itu sudah seharusnya kaum Muslim tidak terkecoh. Isu radikalisme tidak menggambarkan fakta dan peristiwa yang sesungguhnya. Isu ini jelas lebih bernuansa politis. Tujuannya adalah untuk memperkokoh rezim dan melemahkan sikap kritis umat Islam.


*Radikal vs Moderat*

Dengan dalih untuk mencegah radikalisme, berbagai pihak kemudian mengkampanyekan moderasi agama. Moderasi agama secara garis besar adalah paham keagamaan yang moderat. _Moderat_ sering dilawankan dengan _radikal_. Kedua istilah ini bukanlah istilah ilmiah, tetapi cenderung merupakan istilah politis. Kedua istilah ini memiliki maksud dan tujuan politik tertentu. Sebabnya, moderat adalah paham keagamaan (Islam) yang sesuai selera Barat; sesuai dengan nilai-nilai Barat yang notabene sekuler (memisahkan agama dari kehidupan). Sebaliknya, radikal adalah paham keagamaan (Islam) yang dilekatkan pada kelompok-kelompok Islam yang anti Barat. Mereka adalah pihak yang menolak keras sekularisme. Mereka inilah yang menghendaki penerapan syariah Islam secara _kâffah_ dalam seluruh aspek kehidupan. 

Sejak Peledakan Gedung WTC 11 September 2001, AS telah memanfaatkan isu terorisme sebagai bagian dari skenario globalnya untuk melemahkan Islam dan kaum Muslim. Untuk itu, para peneliti kemudian menganjurkan beberapa pilihan langkah bagi AS. Salah satunya adalah mempromosikan jaringan ”Islam moderat” untuk melawan gagasan-gagasan “Islam radikal”. 

Lebih dari itu, dalam Dokumen RAND Corporation 2006 bertajuk, _“Building Moderate Muslim Networks"_ disebutkan bahwa kemenangan AS yang tertinggi hanya bisa dicapai ketika ideologi Islam terus dicitraburukkan di mata mayoritas penduduk di tempat tinggal mereka. Salah satunya dengan labelisasi “radikal”, “fundamentalis”, “ekstremis”, dll.

Mantan Presiden AS George W Bush pernah menyebut ideologi Islam sebagai “ideologi para ekstremis”. Bahkan oleh mantan PM Inggris Tony Blair, ideologi Islam dijuluki sebagai “ideologi setan”. Hal itu ia nyatakan di dalam pidatonya pada Konferensi Kebijakan Nasional Partai Buruh Inggris (2005). Blair lalu menjelaskan ciri-ciri “ideologi setan” yaitu: (1) Menolak legitimasi Israel; (2) Memiliki pemikiran bahwa syariah adalah dasar hukum Islam; (3) Kaum Muslim harus menjadi satu kesatuan dalam naungan Khilafah; (4) Tidak mengadopsi nilai-nilai liberal dari Barat.

Alhasil, isu radikalisme sesungguhnya isu global. Isu ini merupakan kelanjutan dari isu terorisme yang telah gagal dalam mencapai tujuan negara-negara Barat, khususnya AS, untuk melumpuhkan perlawanan umat Islam terhadap penjajahan Barat. 

Narasi perang melawan terorisme, radikalisme dan ekstremisme dengan target memerangi Islam dan umat Islam inilah yang juga terus-menerus dikampanyekan oleh para penguasa Muslim, termasuk di negeri ini. Mereka terus-menerus mengkampanyekan narasi-narasi kebencian terhadap Islam (islamophobia) dan kaum Muslim. Rezim anti Islam pun mengadu-domba sesama kelompok-kelompok Islam. Mereka memanfaatkan ulama-ulama yang tertipu untuk menyerang ajaran Islam khilafah dengan keji. Tujuannya tidak lain agar umat Islam semakin jauh dari ajaran Islam yang _kâffah_ dan mengokohkan penjajahan negara-negara Barat atas Dunia Islam. 


*Sikap Umat Islam*

Allah SWT berfirman:

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

_Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, sementara Allah enggan kecuali menyempurnakan cahaya-Nya meski orang-orang kafir tidak menyukainya_ (QS at-Taubah [9]: 32).

Melalui ayat ini Allah SWT mengingatkan kita bahwa musuh-musuh Islam tidak pernah melewatkan satu pun kesempatan yang dapat mereka gunakan untuk menyerang Islam dan Kaum Muslim. Semuanya demi suksesnya tujuan besar mereka: melenyapkan Islam hingga dari akar-akarnya. 

Karena itu kaum Muslim tak boleh kendor. Tak boleh menjadi lemah. Tak boleh takut. Tetap harus berani. Tetap harus kuat, bahkan lebih kuat dalam melakukan perlawanan terhadap rezim anti Islam. Tentu tanpa harus melakukan aksi-aksi kekerasan.

Hendaknya rasa takut kita hanya kepada Allah SWT. Bukan kepada sesama manusia. Inilah yang mendorong generasi _salafush-shalih_ selalu lantang dan menyuarakan kebenaran dalam menentang para penguasa zalim. Contohnya adalah Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Ia pernah berdiri di atas mimbar mengoreksi kebijakan Khalifah al-Muqtafi. Padahal ketika itu banyak orang diam dibungkam rasa takutnya pada penguasa. Saat itu Khalifah al-Muqtafi mengamanahkan jabatan peradilan kepada hakim yang zalim. Syaikh Abdul Qadir al-Jailani menyampaikan kritiknya secara terang-terangan di atas mimbar masjid ketika Khalifah berada di hadapan sang ulama panutan:

]وَ لَيْتَ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ أَظْلَمَ الظَّالِمِيْنَ وَ مَا جَوَابُكَ غَدًا عِنْدَ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ[

_”Engkau telah mengangkat seseorang untuk kaum Muslim yang paling zalim di antara orang-orang zalim. Lantas apa jawabanmu esok hari (di Akhirat) di hadapan Tuhan Penguasa alam?”_ (Muhammad ash-Shallabi, _Asy-Syaikh ’Abd al-Qadîr al-Jailâni_, hlm. 85).

Itu semua ditegakkan tanpa gusar terhadap celaan orang-orang tercela (_lawmata lâ’im_), sebagaimana terucap di masa kini di balik stigma negatif “radikal” dari mereka yang terpedaya dunia. Allah SWT berfirman: 

...يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلاَ يَخَافُونَ لَوْمَةَ لاَئِمٍ

_(Mereka) tetap berjihad di jalan Allah dan tidak takut terhadap celaan orang yang suka mencela_ (QS al-Maidah [5]: 54).

Bukankah Rasulullah saw. dan para Sahabat pun telah mencontohkan keberanian dan sikap teguh menghadapi berbagai tantangan dakwah? 

Karena itu janganlah kita takut kepada makhluk-Nya dengan mendurhakai-Nya. Ini merupakan sebab kebinasaan, sebagaimana terjadi pada kaum terlaknat, kaum ’Ad (QS Hud [11]: 59-60).

Allah SWT menginformasikan bahwa di antara sebab kebinasaan mereka adalah memenuhi syahwat rezim yang bertindak sewenang-wenang dan menentang kebenaran yang dibawa para rasul pilihan. 

Ingatlah, makhluk itu fana. Kekuasaan mereka pun akan binasa. Sebaliknya, Allah SWT sebaik-baiknya Pelindung (_wa kafâ biLlâhi nashîr[an]_) dan sebaik-baiknya Pemelihara (_wa kafâ biLlâhi wakîl[an]_).

_WalLâhu a’lam bi ash-shawâb._[] 


*Hikmah:*

Rasulullah saw. bersabda:

«مَنِ التَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ، وَمَنِ التَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ»

_Siapa saja yang mencari keridhaan Allah meskipun mendatangkan kemurkaan manusia, Allah akan mencukupkan dia dari bantuan mereka. Siapa saja yang mencari keridhaan manusia dengan mendatangkan kemurkaan Allah, Allah akan menyerahkan dia kepada manusia.”_ (HR at-Tirmidzi). []

Selasa, 01 Februari 2022

Islam dan Sunnah

Islam dan Sunnah

Imam al-Hasan bin Ali al-Barbahari rahimahullah berkata,

اعْلَمُوا أنّ الإسلام هو السنة، والسنة هي الإسلام، ولا يقوم أحدهما إلا بالأخر.

"Ketahuilah, bahwa Islam adalah sunnah (ajaran nabi), dan sunnah adalah Islam, keduanya tidak bisa terpisahkan."

[Sumber: Syarhussunnah Lil Imam al-Barbahari, hlm. 35]

Harta Banyak yang Tidak Berkah Itu Cepat Hilangnya

Harta Banyak yang Tidak Berkah Itu Cepat Hilangnya

Harta yang didapatkan dengan cara tidak berkah semisal hasil korupsi, hasil mencuri, hasil riba, hasil menjadi pelacur dan lain-lainnya, tidak akan berkah dan akan cepat hilang tanpa disadari. Betapa banyak orang yang dahulunya tidak peduli dengan halal dan haramnya harta, setelah hijrah dan bertaubat, dia pun berkata,

“Dulu harta saya banyak, tapi cepat juga habisnya entah ke mana, tanpa saya sadari. Siang-malam saya lembur mencari harta yang banyak, tapi harta itu lenyap dengan cepat. Yang paling miris, saya tidak bahagia dengan harta tersebut. Sekarang setelah hijrah, saya mencari harta yang halal, harta saya cukup untuk hidup dan saya merasakan kebahagiaan.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

والقليل من الحلال يبارك فيه والحرام الكثير يذهب ويمحقه الله تعالى.

“Harta halal yang sedikit diberkahi daripada harta haram yang banyak. Harta haram ini cepat hilangnya dan Allah hancurkan.” (Majmu’ Fatawa, 28: 646)

Hendaknya ini menjadi perhatian kita semua, terutama di zaman ini, zaman yang sudah mendekati akhir zaman di mana orang-orang mulai tidak peduli dengan halal dan haramnya harta yang dia dapatkan. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam,

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ

“Akan datang suatu masa pada umat manusia, mereka tidak lagi peduli dengan cara untuk mendapatkan harta, apakah melalui cara yang halal ataukah dengan cara yang haram“. (HR. Bukhari)

Yang perlu kita cari dari rizki bukan jumlahnya semata, tetapi juga keberkahannya. Dengan harta yang berkah, hidup kita jadi mudah dan dimudahkan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. Cara mendapatkan keberkahan adalah dengan ketakwaan, yaitu rasa takut kepada Allah Ta’ala akan harta yang haram dan cara mendapatkannya yang haram. Apabila kita bertakwa, maka Allah Ta’ala akan turunkan keberkahan kepada kita

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Andaikata penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS. Al-A’raf: 96)

Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam mengajarkan kita agar berdoa dan memohon keberkahan harta, bukan sekedar jumlah semata. Beliau pernah mendoakan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,

اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ

“Ya Allah, perbanyaklah harta dan keturunannya dan berkahilah semua yang Engkau berikan kepadanya.” (HR. Bukhari)

Hasil dari doa beliau adalah keberkahan harta Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,

فوالله إن مالي لكثير، وإن ولدي وولد ولدي يتعاقبون على نحو المئة

“Demi Allah, hartaku sangat banyak. Sementara anak dan cucu-cucuku, mencapai 100  orang.” (HR. Ibnu Hibban no. 7177)

Semoga harta kita selalu berkah dan mendapatkan keridhaan dari Allah Ta’ala.

@ Lombok, Pulau Seribu Masjid

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen, M.Sc, Sp.PK



Sumber: https://muslim.or.id/58780-harta-banyak-yang-tidak-berkah-itu-cepat-hilangnya.html

Sejarah, Akar Masalah, dan Cara Islam Tuntaskan HIV/AIDS

*Sejarah, Akar Masalah, dan Cara Islam Tuntaskan HIV/AIDS* Oleh: Yenni Sarinah, S.Pd (Aktivis Pendidikan Kelahiran Selatpanjang, Riau) ...