Rabu, 14 Desember 2022
BAB 2 QADLA QADAR
Selasa, 13 Desember 2022
EDISI 206 : EUFORIA GILA BOLA
Minggu, 11 Desember 2022
BUKU KE 7 : MY HUSBAND IS MY BESTFRIEND
Tema : My Husband is My Best Friend
Dia Bilang Aku Bidadari
Oleh : Yenni Sarinah, S.Pd (Penulis, Pegiat Literasi Islam, Selatpanjang - Riau)
Memiliki pasangan yang terikat pada satu aturan, satu pemikiran dan satu perasaan adalah impian setiap wanita yang berusaha memperbaiki diri dan bergeliat membantu syiar-syiar agama Allah Swt. dalam agenda-agenda dakwah. Ketika ketetapan itu menyambangi pintu rumah orangtuaku, sungguh itulah kejutan yang sedikit banyak membuat kakiku tak kokoh berdiri.
Lamaran yang datang dari tempat jauh, dari seseorang yang selalu menjauhiku, dan dari keberanian dirinya - yang selalu membuang muka ketika berpapasan denganku di kampus - untuk membawa orang tuanya menempuh pelayaran dari provinsi hingga ke tanah kabupaten yang asing bagi dia sekeluarga, kota kelahiranku. Walaupun orang tuanya ragu dengan pilihannya atas diriku - tak pernah kenal, tak pernah bertemu - dia dengan bahasa sederhana meyakinkan kedua orangtuanya untuk membantu proses lamaran itu.
Kamis, 12 Oktober 2013, seorang pemuda pemalu datang bersama orang tuanya dari jauh mengetuk rumah orang tuaku. Ibuku bertanya apa tujuan mereka. Bapakku tersentak memegang degup jantungnya yang mulai tidak karuan rasanya. Pemuda ini bukanlah orang yang lazim ia lihat wajahnya. Membawa lamaran untuk putri pertama, putri kesayangannya. Seakan waktunya telah tiba, takdir lajangku sudah diambang pintu bahtera. Sudah waktunya berlayar bersama nahkoda yang dipilihkan Tuhan untukku.
Pelayaranku sore itu menuju kota kelahiranku, disambut dengan deringan telepon dari bapak. Dengan nada sedikit dingin, bapak bertanya dengan lembutnya.
"Nak, siapa gerangan pemuda yang datang ke kediaman kita ini nak? Ia berkata hendak melamar engkau nak." ucap bapak dengan nafas agak sesak, seakan menahan kecemasannya.
Ibu juga nimbrung dan berkata, "Nak, wajahnya seiras Ricky Harun nak. Cocok sekali dengan tipe pemuda yang kamu suka sejak remaja."
Kudengar gemuruh bahagia dari ibuku yang selalu tahu tentang aku.
Mendengar nama yang disebut oleh ibuku, aku kenal siapa dia. Seorang pemuda yang pernah bertanya padaku, dimana alamat rumahku, tanpa memandangku, dan selalu menundukkan kepalanya.
"Siapkah anti jika ana lamar ke rumah orang tua anti?" ucapnya dingin.
Aku pikir pemuda ini hanya bercanda. Pasalnya aku hanya mengenalnya sebatas dia adalah ketua komunitas dakwah kampus di fakultas kami.
Jantungku berpacu tak bernyali, resah, takut, bimbang, bercampur haru. Pasalnya dia adalah sosok yang jadi perbincangan teman-temanku yang senang dengan pemuda yang loyal terhadap dakwah Islam. Dari sekian banyak wanita yang memimpikan menjadi pendampingnya, justru aku yang tak pernah duduk berdua dengannya yang dilamar langsung ke orang tuaku.
Jum'at, 13 Oktober 2013, aku tiba dirumah orangtuaku dengan rasa lelah usai melintasi lautan selama 14 jam lebih. Sebentuk cincin diletakkan di depanku dengan tatapan wajah serius.
"Nak, ini jalan hidupmu, bapak tidak akan mengekangmu. Usiamu sudah 24 tahun. Sudah saatnya engkau menikah." ucap bapak dengan mata berkaca-kaca.
"Lantas mengapa bapak bersedih, pak." sambil kusandarkan kepalaku di pundak bapak.
"Bapak senang nak, makanya bapak begini."
Air matanya jatuh bersama dekapan hangat yang khas.
Sabtu, 14 Oktober 2013, lamaran pun dilangsungkan. Dengan jeda 4 bulan, 16 februari 2014 kami menikah dengan akad yang disaksikan keluarga terdekat saja. Dan 16 juni 2014, pesta besar dipersiapkan orang tuaku di kota kelahiranku. Dengan seketika pun, seminggu setelahnya aku dibawa menetap di Provinsi tempat kami menuntut ilmu.
Tahun pertama berlalu dan lahirlah seorang anak laki-laki pada 31 Maret 2015 dengan proses lahiran normal, BB 2,375 gr, TB 52 cm. Kami beri nama Ananda Abdullah. Di tahun depannya lahir lagi seorang anak laki-laki pada 21 Maret 2016 dengan proses seksio sesarea, BB 2,250 gr, TB 44 cm. Kedua putra kami lahir pada bulan ke 8 dengan status bayi prematur. Kami beri nama Ananda Abdurrahman Dawa.
Sungguh inilah fase terberatku membersamai kedua putra prematurku tanpa bantuan orang tua, saudara, maupun baby sitter. Murni hanya kami berdua saja yang menjaga kedua bayi mungil ini. Dalam kesibukannya dakwah dan bekerja di dua tempat siang dan malam, dia selalu hadir menjadi sahabat dekat dalam fase-fase aku terpapar baby blues. Dia yang menguatkan hati dan pundaknya sebagai sandaran tangisku yang tak terbahasakan, dan obat lelah yang tak berkesudahan.
Kemana aku pergi, ia siaga mengantarkan. Kumpul bersama rekan kajian, dia siap menunggu jika ada waktu luang. Dan ketika aku butuh fokus dalam menuntut ilmu syarie, tak jenuh dia mengambil peran menjaga dua batita kami yang sudah mulai aktif geraknya.
Hingga di usia pernikahan ke 6 tahun, kami dianugerahi kehamilan ketiga dengan kondisi yang amat lemah. Tepat di bulan ke 4, pendarahan tak diduga, aku mulai lemah, anak-anakku diungsikan ke rumah kerabatnya. Aku langsung dibawa ke RSIA dan dengan kecemasan yang hampir merenggut nyawa ibu dan janin, putra ketiga kami berpulang pada 17 Desember 2020. Muhammad Aga ibn Beni Desrizal, namanya terukir di pusara.
Haruku membiru, isakku kian bisu. Ada luka batin yang tak mampu kusebut, tak mampu kutumpahkan. Mengenang rasa sakit yang bertubi-tubi, rasa sakit usai keguguran, serta rasa kosong jiwa ketika kehilangan seorang putra. Dia hadir mendekap hangat dan berkata, "Tenanglah sayang, anak surga kita sudah dijemput takdirnya. Ikhlaskan."
Dalam tabahku, ia duduk mendampingiku di ranjang pasien. Banyak dzikir dan nasihat yang dia lontarkan akan takdir, hingga aku yang terluka batin, perlahan sembuh dari duka panjang.
Seketika ia mengizinkanku pulang ke kota kelahiranku untuk menghibur diri. Padahal disana hanya tersisa pusara bapak yang berpulang ke rahmatullah 1 bulan sebelum anak keduaku lahir. Namun demi kembali pulihnya aku, ia antarkan aku dengan anak-anak untuk liburan di kota kelahiranku.
Sebulan sekali dia datang mengunjungiku hingga aku benar-benar pulih. Hingga disuatu ketika aku turun dari kapal, dan lisannya yang selalu berkata baik itu terucap "Kau Bidadari yang turun dari kapal". Hatiku meleleh. Pundakku seakan ringan setelah sebelumnya begitu beban batin dan duka menyelimuti hariku bersama dua orang putra.
Diperantauan, dia selalu siaga menjaga dan menghibur aku dan anak-anak agar tangguh menghadapi luka batin. Dengan agenda dakwah yang kami geluti bersama, dengan aturan, pemikiran dan perasaan yang sama. Kami nikmati hari-hari indah mendampingi dua putra yang kami infaqkan mereka untuk menjadi estafet kemenangan Islam kelak.
Memang, menjadi sahabat padahal tak pernah saling kenal sebelum akad nikah adalah anugerah terindah bagi kami yang juga menyerahkan jiwa dan raga kami untuk memperjuangkan agama ini. Tidak ada kata, tak kenal maka tak cinta. Tapi cintailah apa yang menjadi takdir kita atas pilihan-pilihan terbaik kita. Karena persahabatan sepasang suami-istri esensinya adalah takwa.
Terimakasih kekasihku, ayah dari anak-anak kami, semoga engkau selalu diberikan kesehatan, keberkahan rezeki, dan dipanjangkan umurmu untuk mensukseskan agenda-agenda besar medan dakwah kita semua. Aamiin, Allahumma Aamiin.
“Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzuriyyatinaa qurrota a'yun.”
Artinya: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan dari kalangan kami sebagai penenang hati.” (QS Al-Furqan: 74).
YENNI SARINAH, S.Pd dengan nama pena HAZIMAH KHAIRUNNISA', seorang penulis aktif karya fiksi puisi dan cerpen, serta karya non-fiksi berupa opini dan beberapa antologi pemikiran ideologis. Alumni mahasiswi Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Jurusan Pendidikan Biologi di Universitas Islam Riau (UIR), Alumni Wartawan, Divisi Sirkulasi Tabloid, dan Redaktur Pelaksana di PERS AKLaMASI UIR. Ibu dari 3 orang mujahid, berasal dari Kota Sagu, Selatpanjang Timur, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau. Saat ini aktif menulis bersama beberapa komunitas : FLP cabang Pekanbaru, Komunitas Riau Sastra, Komunitas Tirastimes 2.0., dan mengelola agenda dakwah bersama rekan-rekan di Komunitas Muslimah Bangkit Meranti di Riau. Berkontribusi membina penulis baru di Tim Menulis Mahaliy Pekanbaru. Pernah menjadi Penggiat Literasi di Mahaliy Bukit Raya dan Mahaliy Bengkalis. Beberapa karya yang sudah cetak 2021-2022, berjudul : MENJADI PENGGERAK OPINI DI ERA DIGITAL (2021), REFLEKSI DAN RESOLUSI (2022), BARA PENA (2022), ETSA DAN KISAH (2022), APA YANG ANDA PIKIRKAN SELAIN UANG? (2022), KALAM HIKMAH, CERITA KELUARGA ISLAMI (2022). Kontributor Opini Ideologis di Media Online : LINIMASA NEWS, TREN OPINI, CENDEKIA POS, TINTA SIYASI, VISI MUSLIM, DATARIAU, RIAU NEWS, TINTA MUSLIMAH, AKURAT NEWS. Kontributor Cerpen dan Puisi di Media Online : RIAU SASTRA, LINIMASA NEWS, TINTA MUSLIMAH, TIRASTIMES, RIAU POS, TRIBUN PEKANBARU, HALUAN RIAU, AKLaMASI UIR.
Penulis bisa dihubungi melalui :
e-Mail: yennianada@gmail.com
Whatsapp: 0821-7223-2384
Telepon: 0822-6810-4345
Facebook: https://www.facebook.com/hazimah.khairunnisa
Blog: https://yennisarinah1989.blogspot.com
Senin, 28 November 2022
REPORTASE KOMUNITAS MUSLIMAH BANGKIT MERANTI 27 NOVEMBER 2022
Selasa, 22 November 2022
Peringatan Hari Guru Dan Citra Generasi Tak Beradab
Peringatan Hari Guru Dan Citra Generasi Tak Beradab
Oleh : Yenni Sarinah, S.Pd (Penulis, Pegiat Literasi Islam, Selatpanjang – Riau)
OPINI – Peringatan hari guru sebentar lagi dan diulang setiap tahunnya pada 25 November. Namun berjuta pasang mata dipertontonkan dengan akhlak generasi yang kian tak beradab. Tentu ini ada sebab musababnya. Lantas dimana peran kita sebagai penjaga generasi terutama peran guru dan negara? Haruskah kita sekedar menganggap alarm semacam ini sebatas kenakalan remaja saja?
Seorang nenek yang sedang berjalan kaki di pinggir jalan, didatangi segerombolan pelajar berseragam pramuka membawa sepeda motor. Namun, yang membuat geram adalah ketika salah satu pelajar sengaja menendang nenek itu bahkan menertawakannya. Ini menjadi citra buruk bagi dunia pendidikan saat ini. Pendidikan tak mampu mendidik generasi untuk memiliki adab dan akhlak yang mulia kepada lansia.
Dalam edaran rekaman yang membuat kita yang memandang berdecak geram adalah ketika pelajar yang notabennya adalah orang yang menerima ilmu, namun ilmunya tak mampu mempengaruhi akhlaknya.
Lima pelajar pelaku penganiayaan terhadap seorang nenek di Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara diamankan. Kelima pelajar itu adalah IH, ZA, VH, AR dan RM, merupakan warga Kabupaten Tapsel. (detik.com, 22/11/2022)
Kejadian ini menjadi wejangan kita penikmat berita online, namun pahitnya adalah perkara ini justru dianggap biasa dan cukup dengan meminta maaf saja. Dengan penggalan judul berita bahwa “Perwakilan Orang Tua Pelajar Penganiaya Nenek di Tapsel Minta Maaf”.
Dilansir Antara, Selasa (22/11/2022) permohonan maaf disaksikan Kasat Reskrim Polres Tapsel AKBP Paulus Robert Gorby Pembina dan Plh Kasi Humas Polres Tapsel Briptu Erlangga Gautama Nasution.
Bayangkan, jika nenek itu nenek kita, bahkan ibu kita. Tentu kita tidak senang ibu ataupun nenek kita diperlakukan tidak hormat semacam itu bukan. Dan kita sebagai penjaga generasi bangsa, perlu sadar, ada hal penting yang kita abaikan dalam membersamai generasi muda kita, yaitu pendidikan yang tidak ampuh memperbaiki generasi. Inilah PR kita bersama.
Pendidikan Sekuler Sebab Generasi Tak Beradab
Saat ini, generasi Muslim yang sekuler dan serba liberal hanya bisa jadi kaum pembebek, kaum rebahan, kaum gamers akut, bahkan acuh tak acuh dengan keadaan sekitar, apalagi umat dan negara. Jangan heran, jika generasi saat ini hanya berpikir tentang trend belaka, hingga tidak memandang, apakah itu haram atau halal dalam Islam? Atau minimal ada faedahnya atau tidak bagi dirinya dan agamanya? Sejatinya ini adalah alarm yang seharusnya membuat kita cemas, akan dibawa kemana anak cucu kita kelak, jika generasi yang ada di depan mata adalah generasi rusak?
Begitupun dengan perilaku tak beradab yang dilakukan pelajar tersebut sebelumnya. Ini adalah gambaran real bahwa pendidikan sekuler tak sekedar merusak ranah pendidikan dengan memberi beban pada guru hingga lelah tak menentu, juga turut merusak akal generasi kita dengan edukasi yang tak sesuai dengan visi misi surgawi.
Mirisnya saat ini, pelajaran agama di Sekolah hanya sekali dalam seminggu, itupun hanya bahas hal-hal umum yang belum tentu diterapkan dalam setiap kehidupan individu pelajar itu sendiri. Bahkan sejarah Islam masa lampau hanya untuk diingat dan digunakan ketika ujian, sehingga dalam kehidupan, benar-benar jauh dan bebas dari nilai Islam.
Tentu ini mendatangkan bahaya yang dampaknya sistemik, terlebih lagi jika generasi kita digiring untuk memiliki paham bahwa ajaran Khilafah tidak cocok dengan keberagaman di Indonesia, hingga muncul islamofhobia akut, yang makin menjauhkan generasi dari pendidikan Islam yang gemilang.
Guru, yang seharusnya mendidik generasi dengan adab yang melahirkan akhlak mulia justru kian disibukkan dengan perangkat pembelajaran dan sistem pembelajaran yang menyita banyak waktu, hingga generasi terbaik kita dicekoki begitu banyak informasi dan berujung miss komunikasi dan depresi. Bagaimanakah seharusnya pendidikan ini diarahkan?
Masa Kegemilangan Generasi Islam
Jika kita flashback ke masa lalu, masa kegemilangan generasi Islam, dimana Khilafah berhasil menciptakan dan mencetak generasi-generasi gemilang, yang menjadi pusat peradaban dunia pada masanya dan dielu-elukan bahkan oleh orang-orang kafir saat ini.
Prestasi generasi Islam yang menjadi ilmuwan muslim saat itu hingga kini pun masih menjadi rujukan, seperti ilmu kedokteran, ilmu aljabar, hingga ilmu astronomi. Itu semua hasil daripada penerapan syari’at Islam oleh Pemerintahan Islam (Daulah Khilafah). Sejarah daulah Madinah yang didirikan Rasulullah adalah bukti nyata.
Jika kita melihat masa-masa awal kejayaan Islam maka kita akan menemukan betapa Islam sangat menghargai ilmu pengetahuan. Ketika pasca Perang Badar, Rasulullah Saw mengambil kebijakan membebaskan tawanan dengan syarat setiap tawanan mengajarkan baca tulis kepada sepuluh orang.
Pada saat Umar bin Khaththab menjadi kepala Negara, beliau mengapresiasi guru dengan gaji 15 dinar (63,75 gram emas dengan 978.000/gram) setara dengan Rp.62.347.500 (enam puluh dua juta sekian rupiah).
Negara Islam saat itu benar-benar memperhatikan kesejahteraan guru, dan melengkapi sarana dan prasarana pendidikan. Karena Negara Islam paham betul bahwa pendidikan rakyat adalah tanggung jawab negara.
Asas pendidikan pada saat itu adalah akidah Islam. Dan tujuan pendidikan adalah membekali akal dengan ide-ide yang sehat hingga menjadikan para penuntut ilmu sebagai muslim sejati yang memakai ilmu pengetahuannya dalam sendi-sendi kehidupan.
Untuk tsaqofah – yang merupakan gambaran hidup bagi umat, yang membentuk karakter kepribadiannya dan keberlangsungan eksistensinya, yang mengatur perjalanan hidup dan orientasi hidupnya – diajarkan sesuai keperluan, kemampuan, dan kemauan siswa. Hingga kesan terlalu berbelit-belit dalam menuntut ilmu tidak terjadi dalam sistem Islam.
Untuk tsaqofah asing, diajarkan sebatas pengetahuan saja, untuk dijadikan perbandingan yang tujuan utamanya adalah menguatkan keyakinan tentang kesempurnaan Islam. Namun fatalnya saat ini justru tsaqofah asing, yang mengajarkan kebebasan, perilaku tak beradab, foya-foya dan penganiayaan kepada sesama diadopsi sebagai bagian moderasi agama dan modernisasi pendidikan.
Para guru dirundung kesibukan yang tiada habisnya. Para siswa dicekoki informasi berlebihan yang tiada faedahnya bagi agamanya dan bagi perbaikan generasi bangsa. Dengan citra buruk pendidikan sekuler saat inilah, kita butuhkan adanya perubahan sistem kepada Sistem Islam kaffah.
Sistem yang diterapkan sebagai sistem pemerintahan bukan sebatas ritual semata. Pemahaman tentang penerapan syari’at Islam secara menyeluruh dalam kehidupan inilah harapan kita untuk mengantarkan generasi mengerti adab dan terlahir generasi dengan akhlak mulia.
Bahkan di dalam sistem pemerintahan Islam (Khilafah), tergambar jelas bahwa keberagaman dan toleransi antar umat beragama dijaga supaya tetap damai. Keadilan hukum pun tak pandang status, apalagi terhadap generasi yang notabene merupakan aset peradaban. Generasi muda akan dididik sebaik mungkin dan dibekali oleh ilmu Islam agar siap menjadi generasi peradaban Islam yang gemilang. Karena kita butuh generasi perubahan, bukan rebahan. Generasi yang berideologikan Islam, bukan dengan ideologi sekuler. Yang hidupnya didedikasikan pada Islam, bukan malah hidup bebas tak terbatas ala liberal.
Kita butuh calon pemimpin yang adil dan mensejahterakan umat, bukan pemimpin yang pilih kasih dan menyengsarakan dengan kelakuan yang suka mengoleksi para koruptor. Karena kita adalah sebaik-baik umat peradaban, dan sebaik-baik peradaban dan negara adalah Khilafah. Maka kita kembalikan prestasi kegemilangan kita oleh Islam kaffah dalam sistem Khilafah. Wallahu A’lam bish-shawab.***
https://riaunews.com/opini/peringatan-hari-guru-dan-citra-generasi-tak-beradab/
Selasa, 01 November 2022
Konser Miras di Dendang, Hijab Fest di Hadang, dimana Letak Generasi Terbaik Bangsa?
Konser Miras di Dendang, Hijab Fest di Hadang, dimana Letak Generasi Terbaik Bangsa?
Oleh : Yenni Sarinah, S.Pd (Penulis, Pegiat Literasi Islam, Selatpanjang - Riau)
OPINI - Generasi terbaik akan lahir dari sistem hidup yang baik pula. Sistem terbaik harus dinaungi dan dilindungi oleh negara yang aparaturnya peka akan kondisi masyarakat saat ini. Bagaimana cara menjaga generasi bangsa agar selalu menjadi generasi terbaik?
Membludaknya Konser 'Berdendang Bergoyang' yang diselenggarakan di Istora Senayan Jakarta pada 29/10/2022 berujung pada aksi pembubaran, karena terindikasi adanya minuman keras (miras), over kapasitas yang menyebabkan sebagian penonton pingsan, minimnya tenda kesehatan dan indikasi tindak kejahatan pencopetan, penyelenggara konser langsung diperiksa pihak kepolisian setempat. (tvonenews.com, 30/10/2022)
Aparat pemerintah baru mempermasalahkan dan menghentikan acara ketika sudah nampak nyata adanya kekacauan. Seharusnya aparat sudah bisa melakukan mitigasi acara, apalagi diketahui adanya penjualan tiket over kapasitas. Tambah lagi acara disertai dengan kemaksiatan (adanya minuman keras).
Pemberian izin untuk acara yang tak membawa manfaat terhadap pembentukan karakter generasi sebagai pilar peradaban cemerlang, menunjukkan pemerintah benar-benar tidak memiliki perhatian terhadap pembangunan manusia khususnya generasi muda. Apalagi bila dibandingkan dengan pelarangan acara hijrah fest surabaya beberapa waktu yang lalu.
Lain halnya dengan agenda Hijrah Fest yang direncanakan di surabaya. Surabaya Islamic Festival, Road to Hijrah Fest yang rencananya berlangsung pada 14-16 Oktober 2022 batal digelar. Kerugian dari pembatalan rangkaian pameran dan kajian keislaman itu, diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. (langit.id, 15/10/2022)
Alasannya : 1). keberatan dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur atas pemakaian logo NU dan MUI. 2). adanya penggunaan foto atau gambar Gubernur Jawa Timur pada flyer kegiatan yang belum mendapatkan persetujuan dari Gubernur Jawa Timur. 3). adanya kegaduhan di masyarakat dan indikasi gangguan kamtibmas yang mengarah pada penolakan dan pembubaran kegiatan. Dan ketiga alasan ini sebenarnya sudah menunjukkan ketidakberpihakan pemerintah terhadap pembentukan karakter generasi cemerlang sebagai pilar peradaban gemilang.
Penguasa dalam Islam jelas memiliki perhatian besar terhadap pembentukan generasi, dan senantiasa memberikan lingkungan yang kondusif demi terbentuknya generasi berkualitas yang taat pada Allah Swt. sebagaimana gambaran pemimpin menurut Islam seperti berikut :
Pemimpin Negara sebagai Amîr al-Mu’minîn (pemimpin kaum Mukmin) memiliki tanggung jawab menjalin kesatuan mereka dan menjadi pelindung (junnah) dari segala pengaruh negatif yang merusak generasi bangsa.
Rasulullah saw. bersabda:
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
"Sungguh Imam (pemimpin negara) itu perisai; orang-orang akan berperang mendukung dia dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya." (HR.Muttafaq 'alaih).
Negara adalah benteng yang sesungguhnya, yang akan melindungi generasi bangsa dari perusakan apapun. Mekanisme perlindungan akan dilakukan secara sistemis sebagaimana bimbingan sistem Islam di dalam pemerintahan yang mengadopsi keseluruhan sistem Islam.
Penerapan seperangkat hukum Islam akan diwujudkan untuk membentuk generasi khairu ummah (umat terbaik) dan pembentukan peradaban gemilang dengan langkah sebagai berikut :
Pertama, dalam masalah ekonomi, para ibu dan anak akan dijamin mendapatkan nafkah tanpa perlu bekerja. Sehingga tidak mengganggu konsentrasi para ibu dalam menjaga, merawat, dan mendidik anak-anak.
Nafkah pokok yang ditanggung wali/suami meliputi pemenuhan kebutuhan makan, pakaian, tempat tinggal. Sedangkan selebihnya, keamanan, kesehatan dan pendidikan akan dijamin langsung oleh negara.
Dengan mewajibkan suami atau wali untuk memberikan 3 nafkah paling dasar kepada mereka, diharapkan penjagaan ke atas kaum ibu (pendidik utama generasi) dan anak (pilar peradaban gemilang) akan menunjang negara untuk bangkit berjaya tanpa intervensi pihak asing.
Bila tidak ada wali (yatim piatu) atau suami (janda) maka negara yang akan menanggung nafkah mereka secara keseluruhan, baik makan, pakaian, tempat tinggal, keamanan, pendidikan, bahkan kesehatan.
Kedua, dalam masalah pendidikan, negara berkewajiban membina warga negara dengan pendidikan dan berbagai ajang kajian agama yang mendukung munculnya ketakwaan individu yang mampu menjadi pilar pelaksanaan hukum-hukum yang sesuai dengan syari'at Islam, yang menuntun kepada kebaikan.
Hal ini akan berkaitan erat dengan penyusunan kurikulum yang harus sejalan dengan ide Islam, dalam rangka membentuk kepribadian Islam yang utuh baik dari sisi keimanan (akidah), pengetahuan (tsaqofah) dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Dengan menghadirkan pola pikir dan pola sikap yang menggambarkan kemuliaan Islam yang disebut dengan bersyaksiyah Islam.
Ketiga, dalam masalah media massa, media bebas menyampaikan informasi, dengan tetap terikat pada penyajian informasi yang memberikan pendidikan yang baik kepada masyarakat. Media hendaknya dapat menjaga akidah, akhlak dan menyebarkan kebaikan di tengah-tengah masyarakat.
Media yang memuat konten kejahatan seperti pornografi, kekerasan, ide budaya kaum sodom laknatullah, dan segala yang merusak agama dilarang untuk terbit, serta diberikan sanksi bagi pelaku pelanggaran ini.
Keempat, dalam masalah sosial, masyarakat yang bertakwa akan otomatis mengontrol lingkungannya, agar individu tidak melakukan pelanggaran dan menjaga pergaulan sosial sesuai syariat Islam.
Budaya amar ma'ruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan mencegah kejahatan) akan dihidupkan, sehingga orang akan merasa sungkan untuk melakukan tindak kejahatan (maksiat).
Kelima, dalam masalah sanksi, negara menjatuhkan hukuman tegas terhadap para penganiaya generasi bangsa terutama anak, dan pihak lain yang menjerumuskan anak pada kemaksiatan sesuai hukum sanksi yang diadopsi Islam.
Negara akan melarang seluruh bentuk acara (event) yang mengandung kemaksiatan seperti konser yang terdapat campur baur laki-laki dan perempuan, yang mempertontonkan aurat, pesta minuman keras dan sejenisnya. Negara akan memberikan sanksi tegas kepada pihak penyelenggara.
Hanya negara yang bersistem Islam kaffah yang mampu membangun kebaikan di atas karakter dan kepribadian generasinya, pembangun peradaban gemilang, serta melindungi generasi dari berbagai hal yang merusak karakter tersebut.
Sudah selayaknya masyarakat yang merindukan kebaikan hadir di tengah-tengah bangsa ini untuk bangkit menyuarakan penerapan sistem Islam dalam level bernegara, bukan lagi sebatas individu maupun sekelompok kecil masyarakat semata. Wallahu A'lam bish-showaf.
Selasa, 11 Oktober 2022
PARENTING : MENGAPA AYAH LEBIH SABAR DARIPADA IBU?
*Mengapa Ayah Lebih Sabar daripada Ibu*
Oleh: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
(Penggagas Program 1821 Kumpul Keluarga)
Saya sering mendengar dan membaca sebagian ibu di luar sana mengatakan kalimat semacam ini:
"Abah Ihsan, suami saya melarang saya ikutan belajar parenting karena katanya 'teori doang' bukti nyata, tidak ada. Suami saya juga berkata, dia tak ikutan parenting sana sini, buktinya dia lebih sabar menghadapi anak. Sedangkan saya masih saja tak sabaran".
Atau "Abah Ihsan, saya malu sebenarnya sama suami saya, tapi merasa beruntung juga. Suami saya tuh sabar banget menghadapi anak dan lebih sabar menghadapi anak daripada saya. Saya yang sudah ikutan belajar parenting lebih sering ke sana kemari malah masih sering kurang sabar dengan anak".
Boleh tidak setuju dengan saya. Para ayah normalnya memang secara alamiah: lebih sabar berlipat dari istri! Ini keumuman. Bahwa ada yang tidak sesuai keumuman, ya normal saja. Meski tidak pernah belajar parenting ke sana kemari sekalipun. Ini normalnya loh! Bahkan setidaknya 3x lipat lebih sabar daripada ibu. Kenapa?
Ada banyak faktor. Faktor utama adalah tentang durasi pertemuan ayah bertemu dengan anak jauh lebih sedikit dibandingkan si ibu. Kekurangan waktu ini kemudian dibayar dengan kesabaran dan rasa kasih yang memang belum disalurkan sejak berpisah dari pagi dengan anak.
Ini sekadar ilustrasi kasar. Jangan fokus ke akurasi angkanya, ini sekadar sampel ilustrasi saja. Tiap keluarga bisa memiliki kondisi berbeda, ini hanya keumuman.
Anggap di akhir pekan libur, Sabtu - Minggu, suami istri sama-sama punya skor yang sama berperan di keluarga. Lalu Pada hari kerja Senin - Jumat, katakanlah istri berperan sebagai ibu penuh waktu "mom stay at home". Selama bangun dari subuh pukul 04.30 sampai anak tidur 21.00, jam dengan anak (asumi anak belum sekolah), maka jam pertemuan ibu dengan anak: 16,5 jam.
Ayah? Setiap Senin - Jumat katakanlah ayah ini menjadi ayah yang punya peran selain pencari nafkah, juga melibatkan diri berkontribusi dalam urusan keluarga. Setiap pagi, mulai bangun subuh, ngajak ke masjid, dan "quality time activity" lainnya di pagi hari 04.30-07.00, berarti jam pertemuan dengan anak 2,5 jam di pagi hari.
Lalu di sore dan malam hari, pulang kerja sampai rumah pukul 18.00. Sejak pukul 18.00 asumsikan "doi" yang merasa bertanggung jawab ini, mengambil peran lagi, melaksanakan program 1821, ngajak anak ke masjid, menemani anak belajar, "story time", mengantarkan anak ke tempat tidur sampai jam 21.00 berarti 3 jam.
Total jendral pertemuan ayah dengan anak Senin-Jumat: 5,5 jam. Ibu? 16,5 jam. Kira-kira perbandinganya: 1:3. ITU PUN JIKA SI AYAH IKUT NGURUS LOH YA. Lah kalau mereka masih beranggapan urusan anak hanya urusan ibu gimana?
Jika mau hitung-hitungan, ayah memiliki jam pertemuan dengan anak 3x lebih sedikit daripada ibu. Jadi normalnya ayah 3x lipat lebih sabar daripada ibu. Karena itu, saya sering mengatakan pada para ayah yang mengaku lebih sabar dari istri:
Coba ayah urus anak selama 7 hari berturut-turut, tanpa istri tanpa pembantu. Sendirian! Ingat ya sendirian. Cukup dari 07.00-18.00.
Apakah setelah itu, Anda merasa lebih sabar dari istri?
Apa yang akan terjadi, jika Anda lakukan selama 365 hari?
Apakah setelah itu, Anda merasa lebih sabar dari istri?
Cobalah gantikan peran istri Anda di rumah. Urus rumah dan anak tiap hari dari pagi. Selain rutinitas yang sama tiap hari menghadapi pemandangan yang sama: dapur, kasur, ketemu tukang sayur.
Apakah setelah itu, Anda merasa lebih sabar dari istri?
Saya tidak tahu jawaban Anda. Tapi yang saya tahu ketika saya tanyakan ini pada ribuan ayah yang ikuti kelas-kelas pelatihan saya, mereka menjawab "oh tidaaaak!" Bahkan ada yang berkata "jangankan 7 hari Abah, 1 hari aja pusing!"
Saya tidak tahu jawaban Anda. Tapi yang saya tahu ketika puluhan ayah di Korea Selatan ditantang ngurus anak hanya sekira 2x24 jam tanpa istri, dalam sebuah acara "reality show" tv korea, hampir semua ayah ini kerepotan luar biasa yang membuat sebagian besar ayah ini wajib merasa berterima kasih kepada istrinya.
Tak sedikit bahkan, setelah tantangan selesai, sebagian ayah hampir sujud-sujud dan minta maaf sama istrinya. Karena mereka sudah merasakan: tidak mudahnya menjadi seorang ibu.
Ini tidak berarti laki-laki harus melakukan semuanya, tidak berarti juga harus bertukar peran, apatah lagi melandaskan kebenaran dengan "reality show" Korea. Saya juga tidak mengatakan bahwa perempuan lebih tinggi derajatnya daripada laki-laki atau sebaliknya. Tulisan ini tidak bermaksud membandingkan siapa yang lebih tinggi derajat atau tidak.
Saya hanya ingin mengajak laki-laki berempati, syukur jika belajar bersama dengan istrinya.
Jika tidak, setidaknya tidak menegasikan atau melemahkan semangat istrinya yang tengah berikhtiar belajar pengasuhan (parenting). Mungkin hasilnya tidak selalu persis seperti yang diharapkan. Tapi insya Allah ada perbedaan orang yang belajar dengan yang tidak.
Karena itu, ini pesan saya buat para Ayah demi menjaga kekuatan energi istri Anda, setidaknya 3 hal:
Pertama, jika Anda melihat istri mulai marah-marah tidak jelas, emosian tidak jelas, bantu istri Anda: "Sini anak-anak sama Ayah." Atau "Ada yang bisa Ayah bantu, Bunda sayang?"
Kalimat sederhana itu akan membuat semangat mereka terjaga. Itulah suami yang bertanggung jawab. Bukan malah "kamu nih gak bener mendidik anak, yang sabar dong!"
Atau saat anak ngacak-ngacak rumah, istrinya berkata "jangan diacak-acak, main yang lain," eh suaminya berkata "tidak apa! Namanya anak-anak."
Sekilas memang benar perkataan suaminya jika memang setelah itu suami yang membereskan. Hal yang membuat tambah emosi istrinya karena setelah itu bukannya suami yang membereskan, tapi kemudian yang diminta membereskan justru istrinya, padahal dari pagi si istri sudah melakukan pekerjaan semacam itu.
Gampang jika hanya menyalahkan! Tapi jika pun salah, sebagai "imam", sesalah apapun istri kita, itu juga kontribusi kita di dalamnya yang tidak sensitif terhadap situasi istri.
Jika situasi berulang terlalu sering, saatnya istri Anda, "diupgrade" suasana hatinya dan "upgrade" kompetensinya. "Upgrade" suasana hati dengan memberikan istri untuk melihat "pemandangan" berbeda. Jalan-jalan sepekan sekali, "couple time" tanpa anak dengan kita setidaknya sebulan sekali, keluar kota setahun 2x.
"Upgrade" kompetensi istri dengan berikan kesempatan istri belajar. Bantu ia untuk menghadiri majlis-majlis ilmu: seminar parenting, beli buku, halaqoh, dauroh, gabung komunitas yang baik-baik dll. insya Allah ini semua akan membantu.
Kedua, hentikan meremehkan perkara-perkara yang mungkin menurut kita sepele tapi tidak menurut mereka. Jangan biasakan ngomong pada istri "lebay deh". Karena kita tidak merasakan situasi seperti mereka. Ingat ya, yang lebay menurut kita bisa jadi serius menurut orang lain.
Ketiga, untuk merasakan energi empati, sesekali sediakan waktu setidaknya 1x sepekan urus anak sendiri dari pagi sore, tanpa istri. Saya sering melakukannya, dengan 6 anak saya, saat istri ngaji ada acara dll. "Boleh bawa anak abah?" Saya katakan "Tidak! Itu acara ummi, bukan acara anak-anak."
Saat saya menjaga semua anak saya jalan ke mall atau jadi "dad stay at home!" Beuh! Berasa... Berasa sekali bray, betapa hebatnya istri kita!
Lalu untuk para ibu, jangan pernah menyerah dan jadi inferior "saya masih emosi gak sabar" dll. Normal moms shalihah.. Normal![]
---------
Kamis, 29 September 2022
CURRICULUM VITAE - DAFTAR RIWAYAT HIDUP YENNI SARINAH
Nama Lengkap : YENNI SARINAH, S.Pd
Nama Panggilan : YESA
Nama Pena : HAZIMAH KHAIRUNNISA'
Tempat & Tanggal Lahir : SELATPANJANG / 14 NOVEMBER 2022
Alamat saat ini : JL. RINTIS GG. AKASIA No. 38B RT.002/RW.003 SELATPANJANG TIMUR, KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI, RIAU 28753
Agama : ISLAM
Suku : MELAYU - JAWA TIMUR
Golongan Darah : O
PENDIDIKAN FORMAL
SDN 010 SELATPANJANG 1995-1996
SDN 108 SELATPANJANG 1996-1997
SDN 009 SELATPANJANG 1997-2001
SMPN 2 SELATPANJANG 2001-2004
SMAN 1 SELATPANJANG 2004-2007
FKIP PENDIDIKAN BIOLOGI UNIVERSITAS ISLAM RIAU PEKANBARU 2008
PEKERJAAN : Guru Private Matematika - IPA di PRIVATE ANANDA SELATPANJANG
NAMA ORANG TUA
Ayah : KOMALASARI, Ama.Pd (Almarhum/ASN)
Ibu : MURYANI, S.Pd, SD (ASN SDN 022 SELATPANJANG)
Karya Tulisan :
Antologi Pemikiran Penulis Ideologis
Buku "Menjadi Penggerak Opini Era Digital" 2021 Linimasa Publishing
Buku "Bara Pena" 2022 Linimasa Publishing
Buku "Refleksi dan Resolusi" 2022 Linimasa Publishing
Buku "Kalam Hikmah, Cerita Keluarga Islami" 2022 Linimasa Publishing
Buku "Etsa dan Kisah" 2022 Linimasa Publishing
Buku "Apa yang anda pikirkan selain uang?" 2022 Linimasa Publishing
Kontributor Opini Ideologis di Media Online : LINIMASA NEWS, TREN OPINI, CENDEKIA POS, TINTA SIYASI, VISI MUSLIM, DATA RIAU, RIAU NEWS, TINTA MUSLIMAH, AKURAT NEWS.
Kontributor Cerpen dan Puisi di Media Online RIAU SASTRA, LINIMASA NEWS, TINTA MUSLIMAH, TIRASTIMES, RIAU POS, TRIBUN PEKANBARU, HALUAN RIAU, AKLaMASI UIR.
Penghargaan :
Juara 2 Lomba Menulis Cerpen di Universitas Islam Riau 22 Desember 2009
Juara 3 Lomba Menulis Surat Cinta untuk Ibu di Universitas Islam Riau 22 Desember 2009
Juara 1 Menulis Puisi di Universitas Islam Riau 22 Desember 2009
15 besar Bilik Puisi Riau 2022
10 besar Duta Cerpen Riau 2022
Organisasi :
Forum Lingkar Pena Cabang Pekanbaru 2011 - sekarang
Alumni Lembaga Pers Mahasiswa AKLaMASI UNIVERSITAS ISLAM RIAU 2009 - sekarang
Komunitas Muslimah Bangkit Meranti 2021 - sekarang
Komunitas Riau Sastra 2021 - sekarang
Komunitas KBM "Rising Star 4" 2021 - sekarang
Komunitas Tirastimes 2.0 2021- sekarang
Komunitas Ummahat Menginspirasi Indonesia (UMI) 2022
Kamis, 15 September 2022
OPINI : BASMI SISTEM KOTOR RAMAH KORUPTOR
Senin, 05 September 2022
Kewajiban
PUISI : AYAH DAN KEBISUANKU
Sejarah, Akar Masalah, dan Cara Islam Tuntaskan HIV/AIDS
*Sejarah, Akar Masalah, dan Cara Islam Tuntaskan HIV/AIDS* Oleh: Yenni Sarinah, S.Pd (Aktivis Pendidikan Kelahiran Selatpanjang, Riau) ...
-
Jika sudah belajar bahasa Arab akan tahu bahwa yang orang Arab adalah Nabi Hud, Shalih, Syu'aib dan Muhammad shallallahu al...
-
Meluruskan Pemahaman Qadla dan Qadar (ringkasan Bab Qadla dan Qadar kitab Nizhamul Islam – Syaikh Taqiyuddin An Nabhani) Pembaha...