Rabu, 14 Desember 2022

BAB 2 QADLA QADAR


Meluruskan Pemahaman Qadla dan Qadar
(ringkasan Bab Qadla dan Qadar kitab Nizhamul Islam – Syaikh Taqiyuddin An Nabhani)

Pembahasan Qadla dan Qadar, secara khusus telah dibahas oleh Syaikh Taqiyuddin An Nabhani dalam satu bab tersendiri, yaitu Qadla dan Qadar dalam kitab Nizhamul Islam. Pembahasan ini sengaja diberikan ruang khusus, karena Syaikh Taqiyuddin An Nabhani ingin menempatkan sesuai dengan proporsinya. Syaikh Taqiyuddin An Nabhani tidak ingin terjebak dalam pembahasan yang melelahkan dan terjebak dalam diskusi yang tidak produktif sebagaimana yang dilakukan para mutakallimin (ahli kalam), termasuk Jabbariyah, Muktazilah, dan Ahlussunnah (versi Abu Hasan Al Asy’ari).

Secara fundamental, Syaikh Taqiyuddin An Nabhani telah meletakkan suatu paradigma baru dalam pembahasan Qadla-Qadar, yaitu membahas perbuatan manusia secara relevan (kaitannya) dengan pahala dan dosa. Atau dengan kata lain, pembahasan ini berkaitan dengan hukum perbuatan manusia. 

Syaikh Taqiyuddin An Nabhani tidak meletakkan pembahasan Qadla dan Qadar sebagaimana paradigma mutakallimin, dimana mereka meletakkan pembahasan Qadla dan Qadar tetapi tidak dikaitkan dengan pahala dan dosa. Para mutakallimin melakukan kesalahan dengan melakukan pembahasan Qadla dan Qadar, tetapi dikaitkan dengan ‘penciptaan’ perbuatan manusia (khalqul af’al) dan tertulisnya perbuatan manusia dalam Lauhul Mahfudz.

Contoh kesalahan:
Kalau seorang koruptor ditanya, “Mengapa kamu korupsi?” tentu si penanya akan pusing jika si pencuri menjawab, “Saya korupsi karena perbuatan saya ini sudah ditetapkan Allah dalam Lauhul Mahfudz.” Atau koruptor itu akan menjawab begini, “Saya korupsi, karena perbuatan saya ini merupakan takdir Allah atas saya.”

Contoh kesalahan lain:
Seseorang telah menjual tambang minyak bumi milik rakyat kepada pihak asing, sehingga rakyat banyak yang kesusahan dikarenakan mahalnya biaya untuk mendapatkan minyak. Lalu ditanyakan kepada orang tersebut, “Mengapa Anda menjual tambang minyak milik rakyat itu kepada pihak asing?” Lalu orang tersebut berkata, “Saya berbuat seperti ini karena sudah menjadi takdir bagi saya untuk berbuat begini.”

Jika hal ini dibahas, yaitu tentang ‘siapa yang menciptakan perbuatan manusia’ tentu tidak akan terpecahkan secara memuaskan dan tidak akan selesai.
 Pembahasan hal seperti ini, sama persis dengan pembahasan Qadla dan Qadar yang dilakukan oleh mutakallimin. Mereka berdebat habis tentang ‘siapa yang menciptakan perbuatan manusia’ dan ‘tertulisnya perbuatan manusia di Lauhul Mahfudz’.

Karena itulah, Syaikh Taqiyuddin An Nabhani tidak menjadikan masalah ‘tertulisnya perbuatan manusia di Lauhul Mahfudz’ atau ‘siapa yang menciptakan perbuatan manusia’ sebagai asas (dasar) pembahasan Qadla dan Qadar. Alasannya, hal itu tidak berhubungan dengan ‘pahala dan dosa’ atau ‘halal dan haram’ bagi manusia. Jadi, harus dicari paradigma (asas) baru yang relevan (nyambung) dengan pahala dan dosa. 

Apa itu? 
Yaitu: Perbuatan manusia itu sendiri!

Syaikh Taqiyuddin An Nabhani kemudian melakukan pengkajian yang mendalam tentang fakta perbuatan manusia dari segi: apakah manusia itu dipaksa untuk berbuat (musayyar) atau diberi kebebasan untuk memilih perbuatan (mukhayyar). Dan setelah dikaji secara mendalam, ternyata ada dua jenis perbuatan manusia:

Pertama:
Adakalanya perbuatan itu musayyar (dipaksa), misalnya manusa tidak bisa terbang dengan tubuhnya sendiri, manusia mengalami suatu kecelakaan di luar kuasanya, dan sebagainya. Segala perbuatan atau fakta saat manusia berstatus musayyar inilah yang (oleh Syaikh Taqiyuddin An Nabhani) disebut dengan Qadla (keputusan Allah). 

Yang menetapkan Qadla adalah Allah, dan manusia tidak akan dimintai pertanggungjawaban tentang hal ini. Tidak ada hitungan pahala dan dosa, atau halal-haram dalam masalah ini.

Kedua:
Adakalanya manusia bebas memilih perbuatan (mukhayyar). Misalnya, makan nasi, minum khamr, mencari nafkah dengan jalan korupsi, bekerja sebagai petani, bekerja sebagai kaki tangan penjajah, dan lain-lain sesuai dengan kehendak atau pilihannya sendiri. Di sinilah manusia memanfaatkan Qadar (ketetapan), yaitu karakter khusus yang melekat pada segala sesuatu.
 
Misalnya, api yang memiliki karakter membakar. Tetapi manusia mau menggunakannya untuk membakar sate atau membakar jasad manusia, itu pilihan manusia. 

Contoh lain, manusia memiliki kecerdasan. Manusia mau memanfaatkan kecerdasannya itu untuk berpihak kepada orang Islam atau orang kafir, itu pilihan manusia. 

Dalam konteks mukhayyar ini, manusia akan dimintai pertanggungjawaban. Yang menetapkan Qadar hanya Allah semata. Api memiliki karakter panas, itu hak Allah. Manusia memiliki kecerdasan, itu juga karena pemberian Allah. Tetapi dalam hal pemanfaatannya, manusia tetap akan dimintai pertanggungjawaban. Tetap akan ada hitungan pahala dan dosa.

Oleh karena itu, berdasarkan hal tersebut, koruptor tadi harus tetap dihukum, sekalipun dia berkeyakinan bahwa perbuatannya tersebut tertulis dalam Lauhul Mahfudz. Sebab, yang ia pertanggungjawabkan adalah perbuatan korupsinya (korupsi merupakan perbuatan dosa), bukan keyakinannya itu. Sebab, keyakinannya itu tidak ada hubungannya dengan pahala dan dosa atau halal dan haram.

Kita akan mengatakan kepada koruptor itu, “Silahkan saja kamu yakin bahwa perbuatan kamu tertulis di Lauhul Mahfudz, tetapi kamu harus tetap dihukum, karena kamu telah berdosa melanggar larangan Allah dan Allah tidak pernah memaksamu melakukan korupsi.”

Berdasarkan pemahaman tersebut, paradigma (asas) baru dalam pembahasan Qadla dan Qadar yang digagas Syaikh Taqiyuddin An Nabhani sangatlah fundamental, karena dapat menghilangkan kesamaran seputar masalah Qadla dan Qadar.

Insya Allah, dengan modal seperti ini, kita tidak akan dibingungkan lagi dengan pertanyaan: perbuatan saya ini sudah ditakdirkan Allah atau tidak ya?

Semua kembali pada hukum perbuatan kita, apakah halal ataukah haram.

Selasa, 13 Desember 2022

EDISI 206 : EUFORIA GILA BOLA


Buletin Teman Surga 206. 
Euforia Gila Bola

Setelah empat tahun menanti, akhirnya gelaran piala dunia 2022 di Qatar bergulir pertengahan November ini. Biasanya hajatan besar sepak bola ini dilaksanakan bulan Juni, tapi lantaran pertengahan tahun bertepatan dengan musim panas di Qatar yang suhunya bisa mencapai 50 derajat celcius akhirnya diundur menjelang akhir tahun. Meski begitu, euforia para gila bola tetep tak terbendung.

Bayangin aja, selama pandemi sekitar 2 tahun semua pagelaran sepakbola minim penonton demi mencegah penularan wabah covid. Kini, kehadiran penonton setelah pandemi mereda ibarat botol minuman bersoda yang dikocok terus dibuka tutupnya, auto membuncah.

Hasilnya, Piala Dunia 2023 yang digelar selama 29 hari ini diperkirakan akan dihadiri 1,5 juta turis mancanegara. Belon lagi yang nonton di rumah-rumah via layar kaca. Termasuk di negeri kita, meski harus beli set top box biar bisa nobar tetep dijabanin. Gaspol!

Sepakbola Tak Sekedar Permainan

Kalo kita ngulik sejarahnya, sepak bola pertama kali ada di Cina sekitar abad ke-3 dan 2 sebelum Masehi di masa Dinasti Han. Saat itu masyarakat China melakukan sepak bola dengan cara digiring dan dimasukkan ke dalam jaring kecil.

Bola yang digunakan pada masa ini terbuat dari kulit hewan. Masyarakat China dahulu menyebut olahraga yang dimainkan di atas bidang persegi ini dengan sebutan tsu chu. Tsu yang memiliki arti menerjang bola dengan kaki. Sementara itu, chu dapat diartikan sebagai sebuah bola yang memiliki lapisan kulit dan berisi.

Sepak bola kemudian berkembang dan menjadi olahraga populer ke seluruh dunia. Sehingga, resmi menjadi salah satu cabang olahraga pertama yang dipertandingkan dalam kompetisi olahraga terbesar di dunia, yaitu Olimpiade. Selanjutnya, piala dunia sebagai kompetisi sepak bola internasional pertama kali dilaksanakan pada tahun 1930 di Uruguay.

Antusias masyarakat terhadap sepakbola memancing berbagai kompetisi di berbagai tempat. Dari tingkat desa, hingga piala dunia. Tak ayal, pertandingan antar klub, daerah atau negara telah melahirkan fanatisme antar suporter. Fenomena kaya gini sering dianggap wajar sebagai ekspresi dari sebuah cinta atas dasar rasa se-tanah air, sebangsa, senegara, atau sebuah komunitas semu (fans club). Padahal, sikap ashobiyah ini gampang memancing kerusuhan yang dilakukan suporter.

Yang terbesar, sekaligus yang terburuk di Eropa mungkin adalah Tragedi Heysel, pada laga antara Liverpool kontra Juventus di Final Liga Champions, 29 Mei 1985. Para Liverpudlian yang tak terima tim kesayangannya kalah 0-1 dari Juve, melancarkan serangan ke pendukung ‘Bianconeri’ dan mengakibatkan 39 orang tewas serta 600 orang luka.

Sementara di Mesir, tercatat 74 orang meregang nyawa dan sekitar seribu orang mengalami luka-luka akibat kericuhan antarsuporter usai pertandingan antara klub Al Masry dengan Al Ahly, di Kota Port Said, Rabu 1 Februari 2012.

Selain memancing kerusuhan, ashobiyah juga melahirkan sikap rasisme atau merendahkan orang lain karena perbedaan ras atau warna kulit. Nuansa rasisme ini kental sekali di English Premier League. Sebuah survei yang dilakukan ICM Research dan hasilnya dipublikasikan BBC pada Mei 2004 memperlihatkan 51% dari responden menyatakan kalau Inggris adalah negara yang rasis.

Selain tawuran, pasar taruhan selama ajang piala dunia juga cukup menggiurkan. Nilai taruhan pada Piala Dunia 2022 kini tembus US$35 miliar atau setara dengan Rp550 triliun. Menurut analis Barclays, jumlah ini meningkat 65 persen dari pertandingan Piala Dunia yang diadakan di Rusia pada 2018 silam.

Terakhir yang sering luput dari perhatian remaja. Aksi nobar alias nonton bareng ajang piala dunia yagn sering digelar di cafe atau rumah makan. Laki perempuan campur baur kaya jemuran. Nggak sedikit yang memanfaatkan untuk mojok berduaan. Nggak ketinggalan, godaan setan pun berkeliaran menggoda setiap pasangan untuk bermaksiat. Dari sekedar nonton, ikut taruhan, sampe mabuk-mabukan. Parah!

Hati-Hati, Permainan yang Melalaikan

Dalam Islam, olahraga maupun permainan hukumnya mubah. Akan tetapi, Islam juga ngingetin jangan sampai aktivitas mubah ini berubah menjadi kegiatan lahwun munadhamun (kesia-siaan yang terorganisasi).

Kata lahwun berasal dari kata laha yang berarti perbuatan yang dapat memalingkan seseorang dari kewajibannya, perbuatan yang menyibukkan seseorang dan dapat membuatnya berpaling dari kebenaran.

Imam Asy-Syathibi menyatakan, “Hiburan, permainan, dan bersantai adalah mubah atau boleh, asal tidak terdapat suatu hal yang terlarang.”

Selanjutnya beliau menambahkan, “Namun demikian, hal tersebut tercela dan tidak disukai oleh para ulama. Bahkan, mereka tidak menyukai seorang lelaki yang dipandang tidak berusaha untuk memperbaiki kehidupannya di dunia dan tempat kembalinya di akhirat kelak karena ia telah menghabiskan waktunya dengan berbagai macam kegiatan yang tidak mendatangkan suatu hasil duniawi dan ukhrawi.”

Setiap aktivitas olahraga maupun permainan yang menyebabkan manusia lalai dari tugas utamanya sebagai abdullah yang harus beribadah kepada Allah Swt. dan lalai untuk menyibukkan diri dari kewajiban menuntut ilmu dan berdakwah amar makruf nahi mungkar. Maka, sejatinya telah terjerumus pada hal yang sangat berdosa. Hati-hati!

Apalagi permainan yang terorganisir itu bikin umat Islam terjerumus dalam kemaksiatan. Terbiasa mengumbar aurat, baik pemain maupun penonton; menunda atau malah meninggalkan salat; saling menghina, mengejek dan memancing perselisihan antara pemain maupun suporter.

Inilah gambaran jelas lahwun munadhamun, kesia-siaan yang terorganisasi dan berdampak buruk bagi kehidupan seorang muslim di dunia terlebih di akhirat kelak. Allah Swt. telah mengingatkan di dalam firmannya;

“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah permainan dan senda gurau.…” (QS. Al-An’am: 32)

Jadi, kalo kamu suka nonton sepak bola, nikmati saja permainannya. Bukan sikap ashobiyahnya. Kalo kamu ngefans ama satu tim, bagusnya simpan dalam hati saja. Nggak perlu ditunjukkan dalam ekspresi berlebihan. Apalagi sampai sewot gak karuan karena tim kesayangan menelan kekalahan. Woles aja cuy!

Yang perlu kita sadari, ajang kompetisi sepakbola seperti piala dunia selain menyuburkan ashobiyah juga bisa banyak menyita waktu dan perhatian umat. Akibatnya, umat nggak peduli lagi dengan masalah yang menimpanya selain urusan sepakbola.

Padahal, Rasulullah saw mengingatkan kita agar ketika bangun di pagi hari auto mikir kondisi umat Islam bukan skor pertandingan. “Barangsiapa yang bangun pagi tetapi dia tidak memikirkan kepentingan umat Islam maka dia bukan bagian dari mereka (umat Nabi Muhammad saw ).” (HR. Muslim)

Umat nggak ngeh kalo lagi dijajah secara budaya dan pemikiran melalui gegap gempita ajang kompetisi olahraga yang diadakan secara periodik. Makanya tugas kita untuk menyadarkan umat akan bahaya ajang olahraga yang melenakan dan bersama-sama untuk aktif ikut ngaji dan terjun dalam aktifitas dakwah. Dijamin tak akan melalaikan tapi justru memuliakan. Yuk![]

Minggu, 11 Desember 2022

BUKU KE 7 : MY HUSBAND IS MY BESTFRIEND


Tema : My Husband is My Best Friend

Dia Bilang Aku Bidadari 

Oleh : Yenni Sarinah, S.Pd (Penulis, Pegiat Literasi Islam, Selatpanjang - Riau)

Memiliki pasangan yang terikat pada satu aturan, satu pemikiran dan satu perasaan adalah impian setiap wanita yang berusaha memperbaiki diri dan bergeliat membantu syiar-syiar agama Allah Swt. dalam agenda-agenda dakwah. Ketika ketetapan itu menyambangi pintu rumah orangtuaku, sungguh itulah kejutan yang sedikit banyak membuat kakiku tak kokoh berdiri. 


Lamaran yang datang dari tempat jauh, dari seseorang yang selalu menjauhiku, dan dari keberanian dirinya - yang selalu membuang muka ketika berpapasan denganku di kampus - untuk membawa orang tuanya menempuh pelayaran dari provinsi hingga ke tanah kabupaten yang asing bagi dia sekeluarga, kota kelahiranku. Walaupun orang tuanya ragu dengan pilihannya atas diriku - tak pernah kenal, tak pernah bertemu - dia dengan bahasa sederhana meyakinkan kedua orangtuanya untuk membantu proses lamaran itu.


Kamis, 12 Oktober 2013, seorang pemuda pemalu datang bersama orang tuanya dari jauh mengetuk rumah orang tuaku. Ibuku bertanya apa tujuan mereka. Bapakku tersentak memegang degup jantungnya yang mulai tidak karuan rasanya. Pemuda ini bukanlah orang yang lazim ia lihat wajahnya. Membawa lamaran untuk putri pertama, putri kesayangannya. Seakan waktunya telah tiba, takdir lajangku sudah diambang pintu bahtera. Sudah waktunya berlayar bersama nahkoda yang dipilihkan Tuhan untukku.


Pelayaranku sore itu menuju kota kelahiranku, disambut dengan deringan telepon dari bapak. Dengan nada sedikit dingin, bapak bertanya dengan lembutnya. 

"Nak, siapa gerangan pemuda yang datang ke kediaman kita ini nak? Ia berkata hendak melamar engkau nak." ucap bapak dengan nafas agak sesak, seakan menahan kecemasannya. 


Ibu juga nimbrung dan berkata, "Nak, wajahnya seiras Ricky Harun nak. Cocok sekali dengan tipe pemuda yang kamu suka sejak remaja." 

Kudengar gemuruh bahagia dari ibuku yang selalu tahu tentang aku.


Mendengar nama yang disebut oleh ibuku, aku kenal siapa dia. Seorang pemuda yang pernah bertanya padaku, dimana alamat rumahku, tanpa memandangku, dan selalu menundukkan kepalanya. 

"Siapkah anti jika ana lamar ke rumah orang tua anti?" ucapnya dingin. 

Aku pikir pemuda ini hanya bercanda. Pasalnya aku hanya mengenalnya sebatas dia adalah ketua komunitas dakwah kampus di fakultas kami. 


Jantungku berpacu tak bernyali, resah, takut, bimbang, bercampur haru. Pasalnya dia adalah sosok yang jadi perbincangan teman-temanku yang senang dengan pemuda yang loyal terhadap dakwah Islam. Dari sekian banyak wanita yang memimpikan menjadi pendampingnya, justru aku yang tak pernah duduk berdua dengannya yang  dilamar langsung ke orang tuaku.


Jum'at, 13 Oktober 2013, aku tiba dirumah orangtuaku dengan rasa lelah usai melintasi lautan selama 14 jam lebih. Sebentuk cincin diletakkan di depanku dengan tatapan wajah serius. 


"Nak, ini jalan hidupmu, bapak tidak akan mengekangmu. Usiamu sudah 24 tahun. Sudah saatnya engkau menikah." ucap bapak dengan mata berkaca-kaca. 

"Lantas mengapa bapak bersedih, pak." sambil kusandarkan kepalaku di pundak bapak.

"Bapak senang nak, makanya bapak begini."

Air matanya jatuh bersama dekapan hangat yang khas.


Sabtu, 14 Oktober 2013, lamaran pun dilangsungkan. Dengan jeda 4 bulan, 16 februari 2014 kami menikah dengan akad yang disaksikan keluarga terdekat saja. Dan 16 juni 2014, pesta besar dipersiapkan orang tuaku di kota kelahiranku. Dengan seketika pun, seminggu setelahnya aku dibawa menetap di Provinsi tempat kami menuntut ilmu.


Tahun pertama berlalu dan lahirlah seorang anak laki-laki pada 31 Maret 2015 dengan proses lahiran normal, BB 2,375 gr, TB 52 cm. Kami beri nama Ananda Abdullah. Di tahun depannya lahir lagi seorang anak laki-laki pada 21 Maret 2016 dengan proses seksio sesarea, BB 2,250 gr, TB 44 cm. Kedua putra kami lahir pada bulan ke 8 dengan status bayi prematur. Kami beri nama Ananda Abdurrahman Dawa.


Sungguh inilah fase terberatku membersamai kedua putra prematurku tanpa bantuan orang tua, saudara, maupun baby sitter. Murni hanya kami berdua saja yang menjaga kedua bayi mungil ini. Dalam kesibukannya dakwah dan bekerja di dua tempat siang dan malam, dia selalu hadir menjadi sahabat dekat dalam fase-fase aku terpapar baby blues. Dia yang menguatkan hati dan pundaknya sebagai sandaran tangisku yang tak terbahasakan, dan obat lelah yang tak berkesudahan. 


Kemana aku pergi, ia siaga mengantarkan. Kumpul bersama rekan kajian, dia siap menunggu jika ada waktu luang. Dan ketika aku butuh fokus dalam menuntut ilmu syarie, tak jenuh dia mengambil peran menjaga dua batita kami yang sudah mulai aktif geraknya. 


Hingga di usia pernikahan ke 6 tahun, kami dianugerahi kehamilan ketiga dengan kondisi yang amat lemah. Tepat di bulan ke 4, pendarahan tak diduga, aku mulai lemah, anak-anakku diungsikan ke rumah kerabatnya. Aku langsung dibawa ke RSIA dan dengan kecemasan yang hampir merenggut nyawa ibu dan janin, putra ketiga kami berpulang pada 17 Desember 2020. Muhammad Aga ibn Beni Desrizal, namanya terukir di pusara.


Haruku membiru, isakku kian bisu. Ada luka batin yang tak mampu kusebut, tak mampu kutumpahkan. Mengenang rasa sakit yang bertubi-tubi, rasa sakit usai keguguran, serta rasa kosong jiwa ketika kehilangan seorang putra. Dia hadir mendekap hangat dan berkata, "Tenanglah sayang, anak surga kita sudah dijemput takdirnya. Ikhlaskan."


Dalam tabahku, ia duduk mendampingiku di ranjang pasien. Banyak dzikir dan nasihat yang dia lontarkan akan takdir, hingga aku yang terluka batin, perlahan sembuh dari duka panjang. 


Seketika ia mengizinkanku pulang ke kota kelahiranku untuk menghibur diri. Padahal disana hanya tersisa pusara bapak yang berpulang ke rahmatullah 1 bulan sebelum anak keduaku lahir. Namun demi kembali pulihnya aku, ia antarkan aku dengan anak-anak untuk liburan di kota kelahiranku. 


Sebulan sekali dia datang mengunjungiku hingga aku benar-benar pulih. Hingga disuatu ketika aku turun dari kapal, dan lisannya yang selalu berkata baik itu terucap "Kau Bidadari yang turun dari kapal". Hatiku meleleh. Pundakku seakan ringan setelah sebelumnya begitu beban batin dan duka menyelimuti hariku bersama dua orang putra.


Diperantauan, dia selalu siaga menjaga dan menghibur aku dan anak-anak agar tangguh menghadapi luka batin. Dengan agenda dakwah yang kami geluti bersama, dengan aturan, pemikiran dan perasaan yang sama. Kami nikmati hari-hari indah mendampingi dua putra yang kami infaqkan mereka untuk menjadi estafet kemenangan Islam kelak.


Memang, menjadi sahabat padahal tak pernah saling kenal sebelum akad nikah adalah anugerah terindah bagi kami yang juga menyerahkan jiwa dan raga kami untuk memperjuangkan agama ini. Tidak ada kata, tak kenal maka tak cinta. Tapi cintailah apa yang menjadi takdir kita atas pilihan-pilihan terbaik kita. Karena persahabatan sepasang suami-istri esensinya adalah takwa.


Terimakasih kekasihku, ayah dari anak-anak kami, semoga engkau selalu diberikan kesehatan, keberkahan rezeki, dan dipanjangkan umurmu untuk mensukseskan agenda-agenda besar medan dakwah kita semua. Aamiin, Allahumma Aamiin. 


“Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzuriyyatinaa qurrota a'yun.” 


Artinya: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan dari kalangan kami sebagai penenang hati.” (QS Al-Furqan: 74).



YENNI SARINAH, S.Pd dengan nama pena HAZIMAH KHAIRUNNISA', seorang penulis aktif karya fiksi puisi dan cerpen, serta karya non-fiksi berupa opini dan beberapa antologi pemikiran ideologis. Alumni mahasiswi Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Jurusan Pendidikan Biologi di Universitas Islam Riau (UIR), Alumni Wartawan, Divisi Sirkulasi Tabloid, dan Redaktur Pelaksana di PERS AKLaMASI UIR. Ibu dari 3 orang mujahid, berasal dari Kota Sagu, Selatpanjang Timur, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau. Saat ini aktif menulis bersama beberapa komunitas : FLP cabang Pekanbaru, Komunitas Riau Sastra, Komunitas Tirastimes 2.0., dan mengelola agenda dakwah bersama rekan-rekan di Komunitas Muslimah Bangkit Meranti di Riau. Berkontribusi membina penulis baru di Tim Menulis Mahaliy Pekanbaru. Pernah menjadi Penggiat Literasi di Mahaliy Bukit Raya dan Mahaliy Bengkalis. Beberapa karya yang sudah cetak 2021-2022, berjudul : MENJADI PENGGERAK OPINI DI ERA DIGITAL (2021), REFLEKSI DAN RESOLUSI (2022), BARA PENA (2022), ETSA DAN KISAH (2022), APA YANG ANDA PIKIRKAN SELAIN UANG? (2022), KALAM HIKMAH, CERITA KELUARGA ISLAMI (2022). Kontributor Opini Ideologis di Media Online : LINIMASA NEWS, TREN OPINI, CENDEKIA POS, TINTA SIYASI, VISI MUSLIM, DATARIAU, RIAU NEWS, TINTA MUSLIMAH, AKURAT NEWS. Kontributor Cerpen dan Puisi di Media Online : RIAU SASTRA, LINIMASA NEWS, TINTA MUSLIMAH, TIRASTIMES, RIAU POS, TRIBUN PEKANBARU, HALUAN RIAU, AKLaMASI UIR. 


Penulis bisa dihubungi melalui :

e-Mail: yennianada@gmail.com

Whatsapp: 0821-7223-2384

Telepon: 0822-6810-4345

Facebook: https://www.facebook.com/hazimah.khairunnisa

Blog: https://yennisarinah1989.blogspot.com



Senin, 28 November 2022

REPORTASE KOMUNITAS MUSLIMAH BANGKIT MERANTI 27 NOVEMBER 2022


KOMUNITAS MUSLIMAH BANGKIT MERANTI, TAJA TALK SHOW : 
“POTRET BURAM GENERASI, HADIRKAN ISLAM SEBAGAI SOLUSI”
Oleh : Yenni Sarinah, S.Pd (Penulis, Pegiat Literasi Islam, Selatpanjang - Riau)

REPORTASE - Komunitas Muslimah Bangkit Meranti (MBM) yang berisikan muslimah-muslimah yang peduli dengan lingkungan dan generasi, berkali-kali mentaja kegiatan positif dengan arah pandang bahwa generasi muslim di daerah perbatasan wajib disadarkan untuk kembali kepada Islam. Betapa banyak derita yang dialami orang tua dalam membersamai tumbuh kembang generasi muda di daerah perbatasan yang sangat dekat dengan negara Singapura dan Malaysia ini. Terutama masalah Narkoba dan kejahatan lainnya.

Komunitas MBM memandang pemuda adalah agen perubahan di masa yang akan datang. Mereka memiliki peran yang sangat penting bagi kelangsungan kehidupan sebuah peradaban besar. Pada merekalah disematkan sosok-sosok yang kuat, cerdas, kritis, tangguh dan penuh semangat juang yang tinggi. Namun, kini semakin hari, semakin mudah kita temukan berbagai kerusakan dan kenakalan generasi muda yang sangat memprihatinkan terjadi di sekitar kita. 

Akibatnya generasi muda kita terjerumus ke dalam kehidupan yang serba bebas, mulai kehilangan jati dirinya yang sesungguhnya yaitu generasi pejuang, generasi gemilang. Kehidupan yang serba bebas itu dilihat dari generasi yang kehilangan adab, jauh dari tuntunan agama, kecanduan narkoba, seks bebas, tawuran, aksi begal, perundungan, pornografi, konsumsi miras, bahkan praktek Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (L-G-B-T).

Ketika masalah ini muncul, Komunitas MBM memandang penting untuk merencanakan program-program preventif dan pembenahan serta solusi alternatif yang fundamental untuk melindungi generasi muda dan mengembalikan mereka pada kemuliaan Islam. Sehingga laber umat terbaik, pemimpin peradaban manusia di muka bumi ini pantas diemban oleh generasi muslim. Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Qur’an Surat Al-Imran ayat 110 : “ Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang ma’ruf (kebaikan), dan mencegah dari yang munkar (keburukan), dan beriman kepada Allah.”
Dan kesadaran akan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar ini tidak bisa dilakukan secara individual dalam level keluarga saja. Maka, harus ada sekelompok orang yang bergerak melakukan perubahan dan menangkal dampak buruk yang terjadi bukan secara parsial saja namun harus dari akar masalah kerusakan generasi. Sehingga kerusakan yang terus berulang bahkan sudah di level tumbuh subur di tengah generasi muda kita saat ini dapat menemukan solusi konkrit yang totalitas yaitu dengan Islam.


Talk Show yang diselenggarakan di Gedung Serbaguna Jalan Olahraga, Desa Bantar, Kecamatan Rangsang Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau ini berlangsung hikmat pada Ahad, 27 November 2022. Mulai dari 08.00 WIB sebagaimana terjadwal, namun karena terkendala hujan lebat dan sebagian rute perjalanan tergenang banjir, maka acara optimal terlaksana dari 09:30 WIB hingga 12:30 WIB. Mendatangkan Ustadzah Sri Lestari, SE. seorang Mubalighah Riau asal Pekanbaru, dan Ustadzah Yenita Angkat, S.KM. seorang penggerak Komunitas Muslimah Mengaji Bengkalis (MMB) dari Kabupaten Bengkalis, Riau.

Acara Talk Show ini dihadiri kurang lebih 150-200 peserta yang berasal dari MT Selatpanjang Kota, MT Desa Anak Setatah, MT Desa Sialang Pasung, MT Desa Sungai Cina, MT Desa Bokor, MT Desa Bantar, dan beberapa tokoh masyarakat diantaranya Ermalinda, SE dari PKK Kecamatan Rangsang Barat, Nurjamilah dari Lembaga penyuluh agama Kecamatan Rangsang Barat, Jumiati, S.Ag seorang guru MTs Desa Anak Setatah, dan Dewi Kartika Sari, S.Pd, sebagai Ibu Kepala Desa dan Ketua PKK Desa Bantar.


Acara Talk Show juga dibuka dengan pemutaran video profil perkenalan Komunitas MBM, dan video yang menampilkan betapa generasi ini telah rusak sejak lama, dan akar masalahnya adalah pada penerapan sistem yang tidak mendukung generasi untuk bangkit menjadi generasi terbaik. 

Ustazah Irma Yanipa, Ama.Pd. sebagai Master of Ceremony (MC) membuka acara dengan salam dan dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Ananda Azzaratul Aulia Putri. Berlanjut kata sambutan ketua panitia sekaligus ketua Komunitas MBM, Siti Sapura, S.Pd dan testimoni dari beberapa orang tokoh masyarakat. 

Testimoni tokoh pertama disampaikan oleh Nurhayati (Ibu RT wilayah setempat) menuturkan keprihatinan buruknya adab generasi saat ini kepada orang tuanya baik sikap dan tingkah lakunya. Nurhayati berharap dengan hadirnya komunitas MBM ini, mampu membawa perubahan kepada generasi daerah perbatasan. 

Selanjutnya, Testimoni tokoh kedua oleh Rosnizar (Ketua Muslimat Rangsang Barat) menuturkan turut berduka cita dengan keadaan generasi di daerah perbatasan ini. Beliau sebagai orang tua yang sudah mendidik anaknya dengan baik secara Islam pun tidak mampu menjamin anaknya selamat dari pergaulan bebas di masyarakatnya yang terpapar kerusakan. Beliau berharap Komunitas MBM mampu memberi kontribusi terbaiknya bagi generasi perbatasan ini. 

Yenita membuka acara Talk Show dengan menuturkan bahwa kerusakan generasi ini bukan masalah individu namun ini masalah sistemik. Sehingga perkara kerusakan generasi harus dituntaskan dengan pergantian sistem dari sistem kapitalisme ala barat kembali kepada sistem Islam. Agar kita semua tidak menyesal. Yenita mengajak audiens untuk menerima Islam sebagai solusi tuntas dari akar masalah generasi saat ini. Selanjutnya, Yenita memperkenalkan Sri Lestari kepada audiens dengan teriakan takbir.


Sri Lestari membuka pemaparannya dengan bertanya kabar audiens, membuka cakrawala berpikir audiens, dengan menceritakan kondisi dan fakta terbaru generasi. Sri menyadarkan audiens bahwa ada kegelisahan rusaknya generasi perbatasan yang menjadi garda terdepan dan tempat serangan utama dari pengaruh rusak ideologi barat.

Sri mengatakan potret buram generasi ada dua faktor, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal dari agama yang tidak kuat dari dirinya, karena tidak sekolah, sehingga dirinya yang memutuskan berbuat salah atau tidak melalui pola pikirnya. Semakin tinggi pemahaman akidahnya maka semakin tinggi pula benteng agamanya dan kuat menjadi filter bagi serangan yang masuk. Faktor kedua ada di luar individu, yaitu faktor eksternal yang lebih luas lagi terutama kondisi sistem yang ada di masyarakat.

Sri mengatakan bahwa sistem saat ini menggerogoti daya pikir generasi muda yang masih labil dan mudah terpengaruh, terutama melalui handphone yang terkoneksi dengan internet. Penguasa saat ini tidak menghack dampak buruk internet, terutama perihal porno grafi dan porno aksi yang menggiring generasi ke seks bebas. 
Sri mengatakan bahwa budaya hedon sudah menuntut generasi kita mengeluarkan biaya lebih di luar biaya pendidikan. Sehingga lingkungan perkotaan yang hedon ini menggerus generasi muda yang baik berasal dari desa pun turut menjadi rusak terpapar faktor eksternal ini. Sri mengajak audiens berpikir jauh untuk menyadarkan penguasa bahwa sistem yang diterapkan saat ini rusak dan merusak generasi muda kita. 

Acara Talk Show dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang ditanggapi dengan sangat antusias oleh audiens hingga dibuka sebanyak 8 pertanyaan. Dan secara menyeluruh para ibu mengharapkan solusi yang pasti dalam mereka membersamai generasi muda, anak-anak mereka. Dan Sri mempromosikan juga kegiatan positif Komunitas MBM untuk dijadikan rujukan perbaikan masyarakat, yaitu dengan kembalikan akidah generasi dengan rutin halaqah mengkaji Islam dan menjadi dakwah sebagai poros hidup mereka.


Acara Talk Show pun ditutup dengan Musikalisasi Puisi oleh Ananda Fitri dari SMA.N.2 Selatpanjang dan Ananda Zahira dari Desa Bantar yang mengundang deraian isak tangis air mata ibu-ibu yang hadir hingga sesi akhir. Betapa generasi ini sungguh memprihatinkan jika tidak memakai Islam sebagai solusi.

Acara Talk Show ini dapat ditonton ulang di link berikut : https://web.facebook.com/hazimah.khairunnisa/videos/1190773448214043/?idorvanity=680997210025272 dalam bentuk streaming facebook melalui Fanspage KOMUNITAS MUSLIMAH BANGKIT MERANTI, dan beri dukungan positif dengan klik BERGABUNG pada link : https://www.facebook.com/groups/680997210025272/?ref=share. Semoga kegiatan kecil ini mampu menjadi cikal bakal kebangkitan generasi gemilang dambaan masa depan bangsa. Aamiin Allahumma Aamiin.

Selasa, 22 November 2022

Peringatan Hari Guru Dan Citra Generasi Tak Beradab

Peringatan Hari Guru Dan Citra Generasi Tak Beradab

22 November 2022
 





Oleh : Yenni Sarinah, S.Pd (Penulis, Pegiat Literasi Islam, Selatpanjang – Riau)

OPINI – Peringatan hari guru sebentar lagi dan diulang setiap tahunnya pada 25 November. Namun berjuta pasang mata dipertontonkan dengan akhlak generasi yang kian tak beradab. Tentu ini ada sebab musababnya. Lantas dimana peran kita sebagai penjaga generasi terutama peran guru dan negara? Haruskah kita sekedar menganggap alarm semacam ini sebatas kenakalan remaja saja?

    Seorang nenek yang sedang berjalan kaki di pinggir jalan, didatangi segerombolan pelajar berseragam pramuka membawa sepeda motor. Namun, yang membuat geram adalah ketika salah satu pelajar sengaja menendang nenek itu bahkan menertawakannya. Ini menjadi citra buruk bagi dunia pendidikan saat ini. Pendidikan tak mampu mendidik generasi untuk memiliki adab dan akhlak yang mulia kepada lansia. 

    Dalam edaran rekaman yang membuat kita yang memandang berdecak geram adalah ketika pelajar yang notabennya adalah orang yang menerima ilmu, namun ilmunya tak mampu mempengaruhi akhlaknya.

    Lima pelajar pelaku penganiayaan terhadap seorang nenek di Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara diamankan. Kelima pelajar itu adalah IH, ZA, VH, AR dan RM, merupakan warga Kabupaten Tapsel. (detik.com, 22/11/2022)

    Kejadian ini menjadi wejangan kita penikmat berita online, namun pahitnya adalah perkara ini justru dianggap biasa dan cukup dengan meminta maaf saja. Dengan penggalan judul berita bahwa “Perwakilan Orang Tua Pelajar Penganiaya Nenek di Tapsel Minta Maaf”.

    Dilansir Antara, Selasa (22/11/2022) permohonan maaf disaksikan Kasat Reskrim Polres Tapsel AKBP Paulus Robert Gorby Pembina dan Plh Kasi Humas Polres Tapsel Briptu Erlangga Gautama Nasution.

    Bayangkan, jika nenek itu nenek kita, bahkan ibu kita. Tentu kita tidak senang ibu ataupun nenek kita diperlakukan tidak hormat semacam itu bukan. Dan kita sebagai penjaga generasi bangsa, perlu sadar, ada hal penting yang kita abaikan dalam membersamai generasi muda kita, yaitu pendidikan yang tidak ampuh memperbaiki generasi. Inilah PR kita bersama.

 Pendidikan Sekuler Sebab Generasi Tak Beradab

    Saat ini, generasi Muslim yang sekuler dan serba liberal hanya bisa jadi kaum pembebek, kaum rebahan, kaum gamers akut, bahkan acuh tak acuh dengan keadaan sekitar, apalagi umat dan negara. Jangan heran, jika generasi saat ini hanya berpikir tentang trend belaka, hingga tidak memandang, apakah itu haram atau halal dalam Islam? Atau minimal ada faedahnya atau tidak bagi dirinya dan agamanya? Sejatinya ini adalah alarm yang seharusnya membuat kita cemas, akan dibawa kemana anak cucu kita kelak, jika generasi yang ada di depan mata adalah generasi rusak?

    Begitupun dengan perilaku tak beradab yang dilakukan pelajar tersebut sebelumnya. Ini adalah gambaran real bahwa pendidikan sekuler tak sekedar merusak ranah pendidikan dengan memberi beban pada guru hingga lelah tak menentu, juga turut merusak akal generasi kita dengan edukasi yang tak sesuai dengan visi misi surgawi.

    Mirisnya saat ini, pelajaran agama di Sekolah hanya sekali dalam seminggu, itupun hanya bahas hal-hal umum yang belum tentu diterapkan dalam setiap kehidupan individu pelajar itu sendiri. Bahkan sejarah Islam masa lampau hanya untuk diingat dan digunakan ketika ujian, sehingga dalam kehidupan, benar-benar jauh dan bebas dari nilai Islam.

    Tentu ini mendatangkan bahaya yang dampaknya sistemik, terlebih lagi jika generasi kita digiring untuk memiliki paham bahwa ajaran Khilafah tidak cocok dengan keberagaman di Indonesia, hingga muncul islamofhobia akut, yang makin menjauhkan generasi dari pendidikan Islam yang gemilang.

    Guru, yang seharusnya mendidik generasi dengan adab yang melahirkan akhlak mulia justru kian disibukkan dengan perangkat pembelajaran dan sistem pembelajaran yang menyita banyak waktu, hingga generasi terbaik kita dicekoki begitu banyak informasi dan berujung miss komunikasi dan depresi. Bagaimanakah seharusnya pendidikan ini diarahkan?

Masa Kegemilangan Generasi Islam

    Jika kita flashback ke masa lalu, masa kegemilangan generasi Islam, dimana Khilafah berhasil menciptakan dan mencetak generasi-generasi gemilang, yang menjadi pusat peradaban dunia pada masanya dan dielu-elukan bahkan oleh orang-orang kafir saat ini.

    Prestasi generasi Islam yang menjadi ilmuwan muslim saat itu hingga kini pun masih menjadi rujukan, seperti ilmu kedokteran, ilmu aljabar, hingga ilmu astronomi. Itu semua hasil daripada penerapan syari’at Islam oleh Pemerintahan Islam (Daulah Khilafah). Sejarah daulah Madinah yang didirikan Rasulullah adalah bukti nyata.

    Jika kita melihat masa-masa awal kejayaan Islam maka kita akan menemukan betapa Islam sangat menghargai ilmu pengetahuan. Ketika pasca Perang Badar, Rasulullah Saw mengambil kebijakan membebaskan tawanan dengan syarat setiap tawanan mengajarkan baca tulis kepada sepuluh orang.

    Pada saat Umar bin Khaththab menjadi kepala Negara, beliau mengapresiasi guru dengan gaji 15 dinar (63,75 gram emas dengan 978.000/gram) setara dengan Rp.62.347.500 (enam puluh dua juta sekian rupiah).

    Negara Islam saat itu benar-benar memperhatikan kesejahteraan guru, dan melengkapi sarana dan prasarana pendidikan. Karena Negara Islam paham betul bahwa pendidikan rakyat adalah tanggung jawab negara.

    Asas pendidikan pada saat itu adalah akidah Islam. Dan tujuan pendidikan adalah membekali akal dengan ide-ide yang sehat hingga menjadikan para penuntut ilmu sebagai muslim sejati yang memakai ilmu pengetahuannya dalam sendi-sendi kehidupan.

    Untuk tsaqofah – yang merupakan gambaran hidup bagi umat, yang membentuk karakter kepribadiannya dan keberlangsungan eksistensinya, yang mengatur perjalanan hidup dan orientasi hidupnya – diajarkan sesuai keperluan, kemampuan, dan kemauan siswa. Hingga kesan terlalu berbelit-belit dalam menuntut ilmu tidak terjadi dalam sistem Islam.

    Untuk tsaqofah asing, diajarkan sebatas pengetahuan saja, untuk dijadikan perbandingan yang tujuan utamanya adalah menguatkan keyakinan tentang kesempurnaan Islam. Namun fatalnya saat ini justru tsaqofah asing, yang mengajarkan kebebasan, perilaku tak beradab, foya-foya dan penganiayaan kepada sesama diadopsi sebagai bagian moderasi agama dan modernisasi pendidikan.

    Para guru dirundung kesibukan yang tiada habisnya. Para siswa dicekoki informasi berlebihan yang tiada faedahnya bagi agamanya dan bagi perbaikan generasi bangsa. Dengan citra buruk pendidikan sekuler saat inilah, kita butuhkan adanya perubahan sistem kepada Sistem Islam kaffah.

    Sistem yang diterapkan sebagai sistem pemerintahan bukan sebatas ritual semata. Pemahaman tentang penerapan syari’at Islam secara menyeluruh dalam kehidupan inilah harapan kita untuk mengantarkan generasi mengerti adab dan terlahir generasi dengan akhlak mulia.

    Bahkan di dalam sistem pemerintahan Islam (Khilafah), tergambar jelas bahwa keberagaman dan toleransi antar umat beragama dijaga supaya tetap damai. Keadilan hukum pun tak pandang status, apalagi terhadap generasi yang notabene merupakan aset peradaban. Generasi muda akan dididik sebaik mungkin dan dibekali oleh ilmu Islam agar siap menjadi generasi peradaban Islam yang gemilang. Karena kita butuh generasi perubahan, bukan rebahan. Generasi yang berideologikan Islam, bukan dengan ideologi sekuler. Yang hidupnya didedikasikan pada Islam, bukan malah hidup bebas tak terbatas ala liberal.

    Kita butuh calon pemimpin yang adil dan mensejahterakan umat, bukan pemimpin yang pilih kasih dan menyengsarakan dengan kelakuan yang suka mengoleksi para koruptor. Karena kita adalah sebaik-baik umat peradaban, dan sebaik-baik peradaban dan negara adalah Khilafah. Maka kita kembalikan prestasi kegemilangan kita oleh Islam kaffah dalam sistem Khilafah. Wallahu A’lam bish-shawab.***

https://riaunews.com/opini/peringatan-hari-guru-dan-citra-generasi-tak-beradab/

Selasa, 01 November 2022

Konser Miras di Dendang, Hijab Fest di Hadang, dimana Letak Generasi Terbaik Bangsa?


Konser Miras di Dendang, Hijab Fest di Hadang, dimana Letak Generasi Terbaik Bangsa?

Oleh : Yenni Sarinah, S.Pd (Penulis, Pegiat Literasi Islam, Selatpanjang - Riau)


OPINI - Generasi terbaik akan lahir dari sistem hidup yang baik pula. Sistem terbaik harus dinaungi dan dilindungi oleh negara yang aparaturnya peka akan kondisi masyarakat saat ini. Bagaimana cara menjaga generasi bangsa agar selalu menjadi generasi terbaik?


Membludaknya Konser 'Berdendang Bergoyang' yang diselenggarakan di Istora Senayan Jakarta pada 29/10/2022 berujung pada aksi pembubaran, karena terindikasi adanya minuman keras (miras), over kapasitas yang menyebabkan sebagian penonton pingsan, minimnya tenda kesehatan dan indikasi tindak kejahatan pencopetan, penyelenggara konser langsung diperiksa pihak kepolisian setempat. (tvonenews.com, 30/10/2022)


Aparat pemerintah baru mempermasalahkan dan menghentikan acara ketika sudah nampak nyata adanya kekacauan. Seharusnya aparat sudah bisa melakukan mitigasi acara, apalagi diketahui adanya penjualan tiket over kapasitas.  Tambah lagi acara disertai dengan kemaksiatan (adanya minuman keras).


Pemberian izin untuk acara yang tak membawa manfaat terhadap pembentukan karakter generasi sebagai pilar peradaban cemerlang, menunjukkan pemerintah benar-benar  tidak memiliki  perhatian terhadap pembangunan manusia khususnya generasi muda.  Apalagi bila dibandingkan dengan pelarangan acara hijrah fest surabaya beberapa waktu yang lalu. 


Lain halnya dengan agenda Hijrah Fest yang direncanakan di surabaya. Surabaya Islamic Festival, Road to Hijrah Fest yang rencananya berlangsung pada 14-16 Oktober 2022 batal digelar. Kerugian dari pembatalan rangkaian pameran dan kajian keislaman itu, diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. (langit.id, 15/10/2022)

 

Alasannya : 1). keberatan dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur atas pemakaian logo NU dan MUI. 2). adanya penggunaan foto atau gambar Gubernur Jawa Timur pada flyer kegiatan yang belum mendapatkan persetujuan dari Gubernur Jawa Timur. 3). adanya kegaduhan di masyarakat dan indikasi gangguan kamtibmas yang mengarah pada penolakan dan pembubaran kegiatan. Dan ketiga alasan ini sebenarnya sudah menunjukkan ketidakberpihakan pemerintah terhadap pembentukan karakter generasi cemerlang sebagai pilar peradaban gemilang.


Penguasa dalam Islam jelas memiliki perhatian besar terhadap pembentukan generasi, dan senantiasa memberikan lingkungan yang kondusif demi terbentuknya generasi berkualitas yang taat pada Allah Swt. sebagaimana gambaran pemimpin menurut Islam seperti berikut :


Pemimpin Negara sebagai Amîr al-Mu’minîn (pemimpin kaum Mukmin) memiliki tanggung jawab menjalin kesatuan mereka dan menjadi pelindung (junnah) dari segala pengaruh negatif yang merusak generasi bangsa.


Rasulullah saw. bersabda:


إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ


"Sungguh Imam (pemimpin negara) itu perisai; orang-orang akan berperang mendukung dia dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya."  (HR.Muttafaq 'alaih).


Negara adalah benteng yang sesungguhnya, yang akan melindungi generasi bangsa dari perusakan apapun. Mekanisme perlindungan akan dilakukan secara sistemis sebagaimana bimbingan sistem Islam di dalam pemerintahan yang mengadopsi keseluruhan sistem Islam. 


Penerapan seperangkat hukum Islam akan diwujudkan untuk membentuk generasi khairu ummah (umat terbaik) dan pembentukan peradaban gemilang dengan langkah sebagai berikut : 


Pertama, dalam masalah ekonomi, para ibu dan anak akan dijamin mendapatkan nafkah tanpa perlu bekerja. Sehingga tidak mengganggu konsentrasi para ibu dalam menjaga, merawat, dan mendidik anak-anak.


Nafkah pokok yang ditanggung wali/suami meliputi pemenuhan kebutuhan makan, pakaian, tempat tinggal. Sedangkan selebihnya, keamanan, kesehatan dan pendidikan akan dijamin langsung oleh negara.


Dengan mewajibkan suami atau wali untuk memberikan 3 nafkah paling dasar kepada mereka, diharapkan penjagaan ke atas kaum ibu (pendidik utama generasi) dan anak (pilar peradaban gemilang) akan menunjang negara untuk bangkit berjaya tanpa intervensi pihak asing. 


Bila tidak ada wali (yatim piatu) atau suami (janda) maka negara yang akan menanggung nafkah mereka secara keseluruhan, baik makan, pakaian, tempat tinggal, keamanan, pendidikan, bahkan kesehatan.


Kedua, dalam masalah pendidikan, negara berkewajiban membina warga negara dengan pendidikan dan berbagai ajang kajian agama yang  mendukung munculnya ketakwaan individu yang mampu menjadi pilar pelaksanaan hukum-hukum yang sesuai dengan syari'at Islam, yang menuntun kepada kebaikan.


Hal ini akan berkaitan erat dengan penyusunan kurikulum yang harus sejalan dengan ide Islam, dalam rangka membentuk kepribadian Islam yang utuh baik dari sisi keimanan (akidah), pengetahuan (tsaqofah) dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Dengan menghadirkan pola pikir dan pola sikap yang menggambarkan kemuliaan Islam yang disebut dengan bersyaksiyah Islam. 


Ketiga, dalam masalah media massa, media bebas menyampaikan informasi, dengan tetap terikat pada penyajian informasi yang memberikan pendidikan yang baik kepada masyarakat. Media hendaknya dapat menjaga akidah, akhlak dan menyebarkan kebaikan di tengah-tengah masyarakat.


Media yang memuat konten kejahatan seperti pornografi, kekerasan, ide budaya kaum sodom laknatullah, dan segala yang merusak agama dilarang untuk terbit, serta diberikan sanksi bagi pelaku pelanggaran ini.


Keempat, dalam masalah sosial, masyarakat yang bertakwa akan otomatis mengontrol lingkungannya, agar individu tidak melakukan pelanggaran dan menjaga pergaulan sosial sesuai syariat Islam.


Budaya amar ma'ruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan mencegah kejahatan) akan dihidupkan, sehingga orang akan merasa sungkan untuk melakukan tindak kejahatan (maksiat).


Kelima, dalam masalah sanksi, negara menjatuhkan hukuman tegas terhadap para penganiaya generasi bangsa terutama anak, dan pihak lain yang menjerumuskan anak pada kemaksiatan sesuai hukum sanksi yang diadopsi Islam.


Negara akan melarang seluruh bentuk acara (event) yang mengandung kemaksiatan seperti konser yang terdapat campur baur laki-laki dan perempuan, yang mempertontonkan aurat, pesta minuman keras dan sejenisnya. Negara akan memberikan sanksi tegas kepada pihak penyelenggara.


Hanya negara yang bersistem Islam kaffah yang mampu membangun kebaikan di atas karakter dan kepribadian generasinya, pembangun peradaban gemilang, serta melindungi generasi dari berbagai hal yang merusak karakter tersebut. 


Sudah selayaknya masyarakat yang merindukan kebaikan hadir di tengah-tengah bangsa ini untuk bangkit menyuarakan penerapan sistem Islam dalam level bernegara, bukan lagi sebatas individu maupun sekelompok kecil masyarakat semata. Wallahu A'lam bish-showaf.

Selasa, 11 Oktober 2022

PARENTING : MENGAPA AYAH LEBIH SABAR DARIPADA IBU?


*Mengapa Ayah Lebih Sabar daripada Ibu*

Oleh: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

(Penggagas Program 1821 Kumpul Keluarga)


Saya sering mendengar dan membaca sebagian ibu di luar sana mengatakan kalimat semacam ini:

"Abah Ihsan, suami saya melarang saya ikutan belajar parenting karena katanya 'teori doang' bukti nyata, tidak ada. Suami saya juga berkata, dia tak ikutan parenting sana sini, buktinya dia lebih sabar menghadapi anak. Sedangkan saya masih saja tak sabaran".


Atau "Abah Ihsan, saya malu sebenarnya sama suami saya, tapi merasa beruntung juga. Suami saya tuh sabar banget menghadapi anak dan lebih sabar menghadapi anak daripada saya. Saya yang sudah ikutan belajar parenting lebih sering ke sana kemari malah masih sering kurang sabar dengan anak".


Boleh tidak setuju dengan saya. Para ayah normalnya memang secara alamiah: lebih sabar berlipat dari istri! Ini keumuman. Bahwa ada yang tidak sesuai keumuman, ya normal saja. Meski tidak pernah belajar parenting ke sana kemari sekalipun. Ini normalnya loh! Bahkan setidaknya 3x lipat lebih sabar daripada ibu. Kenapa?


Ada banyak faktor. Faktor utama adalah tentang durasi pertemuan ayah bertemu dengan anak jauh lebih sedikit dibandingkan si ibu. Kekurangan waktu ini kemudian dibayar dengan kesabaran dan rasa kasih yang memang belum disalurkan sejak berpisah dari pagi dengan anak.


Ini sekadar ilustrasi kasar. Jangan fokus ke akurasi angkanya, ini sekadar sampel ilustrasi saja. Tiap keluarga bisa memiliki kondisi berbeda, ini hanya keumuman. 


Anggap di akhir pekan libur, Sabtu - Minggu, suami istri sama-sama punya skor yang sama berperan di keluarga. Lalu Pada hari kerja Senin - Jumat, katakanlah istri berperan sebagai ibu penuh waktu "mom stay at home". Selama bangun dari subuh pukul 04.30 sampai anak tidur 21.00, jam dengan anak (asumi anak belum sekolah), maka jam pertemuan ibu dengan anak: 16,5 jam.


Ayah? Setiap Senin - Jumat katakanlah ayah ini menjadi ayah yang punya peran selain pencari nafkah, juga melibatkan diri berkontribusi dalam urusan keluarga. Setiap pagi, mulai bangun subuh, ngajak ke masjid, dan "quality time activity" lainnya di pagi hari 04.30-07.00, berarti jam pertemuan dengan anak 2,5 jam di pagi hari.

Lalu di sore dan malam hari, pulang kerja sampai rumah pukul 18.00. Sejak pukul 18.00 asumsikan "doi" yang merasa bertanggung jawab ini, mengambil peran lagi, melaksanakan program 1821, ngajak anak ke masjid, menemani anak belajar, "story time", mengantarkan anak ke tempat tidur sampai jam 21.00 berarti 3 jam.


Total jendral pertemuan ayah dengan anak Senin-Jumat: 5,5 jam. Ibu? 16,5 jam. Kira-kira perbandinganya: 1:3. ITU PUN JIKA SI AYAH IKUT NGURUS LOH YA. Lah kalau mereka masih beranggapan urusan anak hanya urusan ibu gimana?


Jika mau hitung-hitungan, ayah memiliki jam pertemuan dengan anak 3x lebih sedikit daripada ibu. Jadi normalnya ayah 3x lipat lebih sabar daripada ibu. Karena itu, saya sering mengatakan pada para ayah yang mengaku lebih sabar dari istri:


Coba ayah urus anak selama 7 hari berturut-turut, tanpa istri tanpa pembantu. Sendirian! Ingat ya sendirian. Cukup dari 07.00-18.00.


Apakah setelah itu, Anda merasa lebih sabar dari istri?


Apa yang akan terjadi, jika Anda lakukan selama 365 hari?


Apakah setelah itu, Anda merasa lebih sabar dari istri?


Cobalah gantikan peran istri Anda di rumah. Urus rumah dan anak tiap hari dari pagi. Selain rutinitas yang sama tiap hari menghadapi pemandangan yang sama: dapur, kasur, ketemu tukang sayur.


Apakah setelah itu, Anda merasa lebih sabar dari istri?


Saya tidak tahu jawaban Anda. Tapi yang saya tahu ketika saya tanyakan ini pada ribuan ayah yang ikuti kelas-kelas pelatihan saya, mereka menjawab "oh tidaaaak!" Bahkan ada yang berkata "jangankan 7 hari Abah, 1 hari aja pusing!"


Saya tidak tahu jawaban Anda. Tapi yang saya tahu ketika puluhan ayah di Korea Selatan ditantang ngurus anak hanya sekira 2x24 jam tanpa istri, dalam sebuah acara "reality show" tv korea, hampir semua ayah ini kerepotan luar biasa yang membuat sebagian besar ayah ini wajib merasa berterima kasih kepada istrinya.


Tak sedikit bahkan, setelah tantangan selesai, sebagian ayah hampir sujud-sujud dan minta maaf sama istrinya. Karena mereka sudah merasakan: tidak mudahnya menjadi seorang ibu.


Ini tidak berarti laki-laki harus melakukan semuanya, tidak berarti juga harus bertukar peran, apatah lagi melandaskan kebenaran dengan "reality show" Korea. Saya juga tidak mengatakan bahwa perempuan lebih tinggi derajatnya daripada laki-laki atau sebaliknya. Tulisan ini tidak bermaksud membandingkan siapa yang lebih tinggi derajat atau tidak.

Saya hanya ingin mengajak laki-laki berempati, syukur jika belajar bersama dengan istrinya.


Jika tidak, setidaknya tidak menegasikan atau melemahkan semangat istrinya yang tengah berikhtiar belajar pengasuhan (parenting). Mungkin hasilnya tidak selalu persis seperti yang diharapkan. Tapi insya Allah ada perbedaan orang yang belajar dengan yang tidak.


Karena itu, ini pesan saya buat para Ayah demi menjaga kekuatan energi istri Anda, setidaknya 3 hal:

Pertama, jika Anda melihat istri mulai marah-marah tidak jelas, emosian tidak jelas, bantu istri Anda: "Sini anak-anak sama Ayah." Atau "Ada yang bisa Ayah bantu, Bunda sayang?"


Kalimat sederhana itu akan membuat semangat mereka terjaga. Itulah suami yang bertanggung jawab. Bukan malah "kamu nih gak bener mendidik anak, yang sabar dong!"


Atau saat anak ngacak-ngacak rumah, istrinya berkata "jangan diacak-acak, main yang lain," eh suaminya berkata "tidak apa! Namanya anak-anak."


Sekilas memang benar perkataan suaminya jika memang setelah itu suami yang membereskan. Hal yang membuat tambah emosi istrinya karena setelah itu bukannya suami yang membereskan, tapi kemudian yang diminta membereskan justru istrinya, padahal dari pagi si istri sudah melakukan pekerjaan semacam itu.


Gampang jika hanya menyalahkan! Tapi jika pun salah, sebagai "imam", sesalah apapun istri kita, itu juga kontribusi kita di dalamnya yang tidak sensitif terhadap situasi istri.

Jika situasi berulang terlalu sering, saatnya istri Anda, "diupgrade" suasana hatinya dan "upgrade" kompetensinya. "Upgrade" suasana hati dengan memberikan istri untuk melihat "pemandangan" berbeda. Jalan-jalan sepekan sekali, "couple time" tanpa anak dengan kita setidaknya sebulan sekali, keluar kota setahun 2x.


"Upgrade" kompetensi istri dengan berikan kesempatan istri belajar. Bantu ia untuk menghadiri majlis-majlis ilmu: seminar parenting, beli buku, halaqoh, dauroh, gabung komunitas yang baik-baik dll. insya Allah ini semua akan membantu.


Kedua, hentikan meremehkan perkara-perkara yang mungkin menurut kita sepele tapi tidak menurut mereka. Jangan biasakan ngomong pada istri "lebay deh". Karena kita tidak merasakan situasi seperti mereka. Ingat ya, yang lebay menurut kita bisa jadi serius menurut orang lain.


Ketiga, untuk merasakan energi empati, sesekali sediakan waktu setidaknya 1x sepekan urus anak sendiri dari pagi sore, tanpa istri. Saya sering melakukannya, dengan 6 anak saya, saat istri ngaji ada acara dll. "Boleh bawa anak abah?" Saya katakan "Tidak! Itu acara ummi, bukan acara anak-anak."


Saat saya menjaga semua anak saya jalan ke mall atau jadi "dad stay at home!" Beuh! Berasa... Berasa sekali bray, betapa hebatnya istri kita!


Lalu untuk para ibu, jangan pernah menyerah dan jadi inferior "saya masih emosi gak sabar" dll. Normal moms shalihah.. Normal![]

---------

Kamis, 29 September 2022

CURRICULUM VITAE - DAFTAR RIWAYAT HIDUP YENNI SARINAH

CURRICULUM VITAE

Nama Lengkap         : YENNI SARINAH, S.Pd

Nama Panggilan        : YESA 

Nama Pena             : HAZIMAH KHAIRUNNISA'

Tempat & Tanggal Lahir    : SELATPANJANG / 14 NOVEMBER 2022

Alamat saat ini        : JL. RINTIS GG. AKASIA No. 38B RT.002/RW.003 SELATPANJANG TIMUR, KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI, RIAU 28753

Agama            : ISLAM

Suku                : MELAYU - JAWA TIMUR

Golongan Darah        : O


PENDIDIKAN FORMAL

  • SDN 010 SELATPANJANG 1995-1996

  • SDN 108 SELATPANJANG 1996-1997

  • SDN 009 SELATPANJANG 1997-2001

  • SMPN 2 SELATPANJANG 2001-2004

  • SMAN 1 SELATPANJANG 2004-2007

  • FKIP PENDIDIKAN BIOLOGI UNIVERSITAS ISLAM RIAU PEKANBARU 2008


PEKERJAAN : Guru Private Matematika - IPA di PRIVATE ANANDA SELATPANJANG


NAMA ORANG TUA

Ayah        : KOMALASARI, Ama.Pd (Almarhum/ASN)

Ibu        : MURYANI, S.Pd, SD (ASN SDN 022 SELATPANJANG)




Karya Tulisan    :  

Antologi Pemikiran Penulis Ideologis

  1. Buku "Menjadi Penggerak Opini Era Digital" 2021 Linimasa Publishing

  2. Buku "Bara Pena" 2022 Linimasa Publishing

  3. Buku "Refleksi dan Resolusi" 2022 Linimasa Publishing

  4. Buku "Kalam Hikmah, Cerita Keluarga Islami" 2022 Linimasa Publishing

  5. Buku "Etsa dan Kisah" 2022 Linimasa Publishing

  6. Buku "Apa yang anda pikirkan selain uang?" 2022 Linimasa Publishing

  7. Kontributor Opini Ideologis di Media Online : LINIMASA NEWS, TREN OPINI, CENDEKIA POS, TINTA SIYASI, VISI MUSLIM, DATA RIAU, RIAU NEWS, TINTA MUSLIMAH, AKURAT NEWS.

  8. Kontributor Cerpen dan Puisi di Media Online RIAU SASTRA, LINIMASA NEWS, TINTA MUSLIMAH, TIRASTIMES, RIAU POS, TRIBUN PEKANBARU, HALUAN RIAU, AKLaMASI UIR. 


Penghargaan    : 

  • Juara 2 Lomba Menulis Cerpen di Universitas Islam Riau 22 Desember 2009

  • Juara 3 Lomba Menulis Surat Cinta untuk Ibu di Universitas Islam Riau 22 Desember 2009

  • Juara 1 Menulis Puisi di Universitas Islam Riau 22 Desember 2009

  • 15 besar Bilik Puisi Riau 2022

  • 10 besar Duta Cerpen Riau 2022


Organisasi :

  • Forum Lingkar Pena Cabang Pekanbaru 2011 - sekarang

  • Alumni Lembaga Pers Mahasiswa AKLaMASI UNIVERSITAS ISLAM RIAU 2009 - sekarang

  • Komunitas Muslimah Bangkit Meranti 2021 - sekarang

  • Komunitas Riau Sastra 2021 - sekarang

  • Komunitas KBM "Rising Star 4" 2021 - sekarang 

  • Komunitas Tirastimes 2.0 2021- sekarang

  • Komunitas Ummahat Menginspirasi Indonesia (UMI) 2022



    


Kamis, 15 September 2022

OPINI : BASMI SISTEM KOTOR RAMAH KORUPTOR


BASMI SISTEM KOTOR RAMAH KORUPTOR
Oleh : Yenni Sarinah, S.Pd (Penulis, Penggiat Literasi Islam, Selatpanjang - Riau)

OPINI - Sistem Demokrasi terbukti menjadi sistem kotor yang kian ramah dengan koruptor. Pasalnya, sistem ini menggiring petinggi negeri, baik terpaksa maupun suka rela untuk melakukan korupsi. Dan sistem ini pula yang melonggarkan hukuman bagi para koruptor dengan berbagai dalih remisi. Layakkah sistem ini dipertahankan?

Diberitakan sebelumnya, Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) telah menerbitkan Peraturan Menteri Hukum dan HAM (Permenkumham) Nomor 7 tahun 2022. Aturan baru ini adalah hasil akhir putusan Mahkamah Agung (MA) yang membatalkan PP Nomor 99 Tahun 2012 (dikenal dengan PP pengetatan remisi koruptor). Pada aturan itu disebutkan bahwa bagi koruptor yang ingin mendapatkan remisi bebas bersyarat harus memenuhi persyaratan, yaitu wajib sudah membayar denda dan uang pengganti. (news.detik.com, 07/09/2022)

Dan Publik kini disuguhkan pula dengan eks napi korupsi atau koruptor yang ternyata masih bisa menjadi calon anggota legislatif (caleg) di DPR, DPRD, dan DPRD pada Pemilu 2024 mendatang. Alasannya, UU Pemilu tidak melarang eks koruptor untuk kembali menjadi caleg. (beritasatu.com, 28/08/2022)

Ini hanya tentang cara dan sumber perkara. Di sistem Demokrasi, kontes politisasi menuntut permodalan yang tidak sedikit. Hampir 345 Milyar digelontorkan pemenang kontes PDI P di pemilu sebelumnya. (cnbcindonesia.com, 02/05/2019) 

Cara ini menggiring pemenang untuk membayar dahulu modal mereka dengan beragam dalih yang kian canggih. Mulai dari menaikkan harga BBM berkali-kali tanpa memikirkan efek dominonya ke sektor lain, serta mengusung kembali antek-antek perpolitikan mereka yang korup sebagai politik balas budi. Tentunya ini akan menambah kemahiran mereka dalam memanipulasi cara mereka untuk korupsi agar tidak diketahui. 

Namun, Rabb semesta alam yang Maha Pembuat makar telah menampakkan bukti-bukti kelalaian mereka dalam mengurusi rakyat melalui hacker bjorka. Yang darinya aparat negara lantas berargumen konyol dengan meminta hacker bjorka untuk tidak menyerang, bukan malah memperkuat pertahanan.

Hingga kini hacker Bjorka diduga telah meretas data pelanggan Indihome, data registrasi SIM Card, data KPU RI, data pejabat negara dan sejumlah dokumen surat menyurat milik Presiden Joko Widodo, termasuk surat yang dikirim oleh Badan Intelijen Negara (BIN). (m.kontan.co.id, 15/09/2022)

MEMBASMI KORUPSI 

Korupsi adalah musuh besar kemanusiaan bagi semua manusia. Di negara mana pun, pemberantasan korupsi menjadi salah satu agenda besar negara. Karena Korupsi adalah kejahatan yang luar biasa, tentu untuk membasminya diperlukan upaya yang juga luar biasa. Solusinya adalah sistem yang benar-benar anti korupsi serta pemimpin yang mampu memberi teladan.

Pemberantasan korupsi sangat ditentukan oleh sistem apa yang tepat untuk diterapkan. Dan akan terus menerus memberi harapan kosong jika sistem politik sekular demokrasi yang korup saat ini masih menjadi primadona.

Pemberantasan korupsi bisa terealisasi jika sistem yang terbukti korup dan gagal memberantas korupsi ini segera kita tinggalkan. Dengan mengadopsi dan menerapkan kembali sistem yang benar-benar anti korupsi, yaitu dengan sistem Islam dengan pemerintahan yang dipegang oleh orang-orang yang bertakwa dan bebas dari dana politisasi yang fantastis.

Di sistem Islam menihilkan adanya politik dengan biaya tinggi. Celah bagi kolusi dan upeti dalam pemilihan pejabat juga akan ditutup sedemikian rupa. Tidak seperti sistem sekarang ini. Melanggengkan segala cara untuk mencari sebanyak-banyaknya teman yang sebatas kepentingan sesaat yang kian sesat.

Dalam sistem Islam, hukum juga tidak bisa diutak-atik. Apalagi ditetapkan sesuka hati oleh penguasa. Sebabnya, hukumnya adalah hukum buatan Allah SWT. yang bersumber dari al-Quran dan as-Sunnah, kemudian di-istinbath (perumusan hukum) dengan istinbath syar’i yang sahih (benar). 

Dalam sistem Islam, perubahan hukum atau UU untuk melemahkan pemberantasan korupsi, termasuk melemahkan kewenangan lembaga pemberantas korupsi, yaitu KPK dan Kepolisian justru tidak akan terjadi. Masih banyak lagi aspek mendasar dalam sistem Islam yang menjamin sistem ini benar-benar anti korupsi. 

Secara praktis, pemberantasan korupsi dalam sistem Islam di antaranya dilakukan melalui beberapa upaya penting sebagai berikut ini:

Pertama: Penanaman iman dan takwa, terutama kepada pejabat dan pegawai. Ketakwaan menjadi standar utama dalam pemilihan pejabat. Ketakwaan itu akan mencegah pejabat dan pegawai melakukan kejahatan korupsi. 

Rasul saw. mencontohkan hal itu. Tidak ada yang meragukan ketakwaan Sahabat Muazd bin Jabal ra. Namun, tatkala Rasul saw mengutus Muadz ke Yaman menjadi ‘amil (kepala daerah setingkat bupati) dan ia sudah dalam perjalanan, Rasul saw. memerintahkan seseorang untuk memanggil Muadz agar kembali. Lalu Rasul saw. bersabda kepada Muadz, “Tahukah kamu mengapa aku mengirim orang untuk menyusulmu? Janganlah kamu mengambil sesuatu tanpa izinku karena hal itu adalah ghulûl (khianat). Siapa saja yang berkhianat, pada Hari Kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu (TQS Ali Imran [3]: 161). Karena inilah aku memanggilmu. Sekarang, pergilah untuk melakukan tugasmu.” (HR at-Tirmidzi dan ath-Thabarani).

Kedua: Sistem penggajian yang layak sehingga tidak ada alasan untuk berlaku korup.  

Ketiga: Ketentuan serta batasan yang sederhana dan jelas tentang harta ghulul serta penerapan pembuktian terbalik. Rasul saw bersabda:

« مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ عَلَى عَمَلٍ فَرَزَقْنَاهُ رِزْقًا فَمَا أَخَذَ بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ غُلُولٌ »

Siapa saja yang kami angkat untuk satu tugas dan telah kami tetapkan pemberian (gaji) untuk dia maka apa yang dia ambil setelah itu adalah harta ghulul (HR Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah dan al-Hakim).

Berdasarkan hadis ini harta yang diperoleh aparat, pejabat dan penguasa selain pendapatan (gaji) yang telah ditentukan, apapun namanya (hadiah, fee, pungutan, suap, dsb), merupakan harta ghulul dan hukumnya haram.

Hadis ini mengisyaratkan: transparansi pendapatan pejabat dan aparat amat diperlukan sehingga mudah diawasi. Harta pejabat dan aparat harus dicatat, bukan hanya mengandalkan laporan yang bersangkutan. Harta kekayaan pejabat itu harus diaudit.  Jika ada pertambahan harta yang tak wajar, yang bersangkutan harus membuktikan hartanya diperoleh secara sah.  Jika tidak bisa, hartanya yang tidak wajar disita sebagian atau seluruhnya dan dimasukkan ke kas negara.

Keempat: Hukuman yang bisa memberikan efek jera dalam bentuk sanksi ta’zîr.  Hukuman itu bisa berupa tasyhir (pewartaan/ekspos), denda, penjara menahun lamanya sampai hukuman mati, sesuai dengan tingkat dan dampak korupsinya. Sanksi penyitaan harta ghulul juga bisa ditambah dengan denda. Gabungan keduanya ini sekarang dikenal dengan pemiskinan terhadap para koruptor.  

Perlakuan itu bukan hanya diterapkan kepada diri pejabat, tetapi bisa juga diterapkan kepada orang-orang dekatnya. Ini sebagaimana yang pernah dicontohkan oleh Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. dan disetujui oleh para Sahabat.  Pencatatan kekayaan, pembuktian terbalik dan sanksi, termasuk pemiskinan yang memberikan efek jera dan gentar ini, sangat afektif memberantas korupsi.

Beliau adalah contoh pemimpin yang memiliki ketakwaan. Rasa takutnya kepada Allah SWT dan siksa-Nya telah menghujam dalam kalbunya. Hal ini akan membuat dia konsisten dan konsekuen menjalankan hukum dan pemerintahan. Dia akan sangat keras menjaga harta rakyat dan negara. Bagi dia, tidak boleh ada harta rakyat dan negara yang hilang atau tersia-sia apalagi dikorupsi. 

Pemimpin yang menjaga harta rakyat dan negara ini antara lain adalah Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. Beliau pernah mengejar unta zakat yang lepas, lalu ditegur oleh Sayidina Ali bin Abi Thalib ra. Khalifah Umar menjawab, “Jangan engkau mencelaku, wahai Abul Hasan. Demi Tuhan Yang telah mengutus Muhammad saw. dengan kenabian, andaikan ada anak domba (zakat) hilang di tepi Sungai Eufrat, pasti Umar akan dihukum karena hal tersebut pada Hari Kiamat. Sebab, tiada kehormatan bagi seorang penguasa yang menghilangkan (hak) kaum Muslim.” (Abu Laits as-Samarkandi, Tanbîh al-Ghâfilîn, hlm. 383-384).

Pemimpin teladan hanya akan menunjuk dan memilih pejabat dari orang-orang terbaik, yang bertakwa serta memiliki kapasitas dan profesionalitas. Dia tidak akan menunjuk pejabat karena kedekatan, hubungan, kekerabatan, kolega, pertemanan dan kelompok. Termasuk dalam menunjuk orang yang mengurusi harta dan badan usaha milik negara. Dan tidak akan ada bagi-bagi jabatan sebagai balas jasa politik.

Rasul saw bersabda:
«مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ الْمُسْلِمِينَ شَيْئًا فَأَمَّرَ عَلَيْهِمْ أَحَدًا مُحَابَاةً ‏ ‏فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ لَا يَقْبَلُ اللَّهُ مِنْهُ ‏‏صَرْفًا ‏وَلَا عَدْلًا حَتَّى يُدْخِلَهُ جَهَنَّمَ »
Siapa saja yang dipercaya mengurus suatu urusan kaum Muslim, lalu dia mengangkat seseorang sebagai pemimpin mereka karena kecintaan, maka bagi dia laknat Allah; tidak diterima dari dia pengampunan dan tidak pula tebusan sampai Allah memasukkan dia ke Neraka Jahanam. (HR Ahmad).

Pemimpin yang baik akan bersikap tegas kepada siapapun, bahkan terhadap orang-orang dekatnya sekalipun. Dia tidak akan melindungi pejabat, kolega, kelompoknya atau siapapun yang terjerat korupsi. Dia tidak akan rela meloloskan aturan, termasuk aturan administratif yang menghambat atau melemahkan pemberantasan korupsi ataupun memberikan celah untuk perilaku korupsi. Dia juga tidak akan membuat kebijakan, memilih pejabat dan melakukan upaya yang melemahkan upaya pemberantasan korupsi. 

Pemimpin yang baik itu memiliki ketegasan seperti dicontohkan oleh Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. Jika Umar ra. mendapati kekayaan seorang wali atau 'amil (kepala daerah) bertambah secara tidak wajar,  beliau meminta pejabat tersebut menjelaskan asal-usul harta tambahan tak wajar tersebut. Jika penjelasannya tidak memuaskan, kelebihannya disita atau dibagi dua. Separuhnya diserahkan ke Baitul Mal. Hal ini pernah beliau lakukan kepada Abu Hurairah, Utbah bin Abu Sufyan juga Amr bin al-‘Ash (Ibnu ’Abd Rabbih, Al-’Iqd al-Farîd, I/46-47). 

Khalifah Umar pun bersikap tegas terhadap keluarganya sendiri. Ketika melihat unta milik Abdullah bin Umar paling gemuk di antara unta yang digembalakan di padang gembalaan umum, beliau menyuruh Abdullah bin Umar menjual unta itu. Lalu kelebihan dari modalnya dimasukkan ke kas negara. Khalifah Umar menilai, unta itu paling gemuk karena mendapat rumput terbaik mengingat Abdullah bin Umar adalah putranya ketika ia menjabat sebagai Khalifah.

Pemimpin yang baik itu sederhana hidupnya. Dia bukanlah pemimpin yang kekayaannya bertambah banyak ketika menjabat. Pemimpin yang baik itu seperti Khulafaur Rasyidin. Abu Bakar ash-Shidiq ra., misalnya, menjelang wafat berwasiat agar jika ada kelebihan harta dari hartanya sebelum menjabat khalifah dikembalikan ke Negara. Ketika diperiksa, tambahan hartanya hanyalah unta yang biasa digunakan untuk menyirami kebun, seorang hamba sahaya dan selembar selimut beludru seharga lima dirham (Muhammad bin Al-Hasan bin Muhammad bin Ali bin Hamdun, At-Tadzkirah al-Hamdûniyyah, I/139). 

Pemberantasan korupsi tentu akan menjadi lebih sempurna jika disertai dengan kontrol dari masyarakat, khususnya para ulama. 

Demikianlah pemberantasan korupsi hanya akan berhasil dalam sistem Islam. Sebaliknya, sulit sekali bahkan mustahil terwujud dalam sistem sekular seperti sekarang ini. Karena itu, tegaknya penerapan syariah Islam secara menyeluruh dan totalitas harus disegerakan. WalLâh A’lam bi ash-shawâb. []

Senin, 05 September 2022

Kewajiban


Maaf Aku Lagi Sibuk
Penulis : abu zaid

Sibuk biasa jadi senjata pamungkas. Alasan untuk tidak menghadiri berbagai acara. Ga datang acara keluarga alasan sibuk. Ga datang walimah alasan sibuk. Ga datang nengok ortu alasan sibuk. Ga datang njenguk kawan sakit alasan sibuk. Sampai pun tak datang ngaji alasan juga sibuk. Pendek kata sibuk jadi penutup bagi berbagai alasan yang sebenarnya. 

Jika kita sering memakai alasan sibuk sebagai pembenaran agar orang lain maklum. Memangnya kita kira orang yang hadir di berbagai acara itu pengangguran? Ga punya kegiatan? Atau orang tak berguna gitu? Memangnya para pejuang Islam yang begitu gigih siang malam itu pengangguran kah? Jangan sembarangan lah.

Mereka yang datang nengok ortu karena nyempetin. Mereka yang hadir nengok kawan sakit juga karena nyempetin. Mereka yang hadir ngaji juga nyempetin. Mereka korbankan berbagai kegiatan lain untuk melakukan kegiatan itu. Bukan karena nganggur. Bukan karena tak ada kesibukan. 

Terus kalo kita ga hadir ngaji dengan alasan sibuk. Memangnya ustadz nya penganguran tanpa kegiatan? Memangnya kawan kawan yang rajin itu ga punya tanggung jawab lain. Mereka semua juga sibuk. Ustadz kita itu juga punya anak punya istri punya ortu yang wajib diurus. Beliau juga kerja atau usaha. Kawan kawan juga sama. Terus mengapa meraka tak bilang sibuk sperti kita? 

Karena mereka faham untuk menyempatkan diri beramal sholih. Memanfaatkan waktu hidup untuk bersiap mati. Mereka sadar betul bahwa mereka pasti mati. Dan tak bisa menjadikan alasan sibuk di hadapan Allah jika di tanya kenapa ga ngaji? Kenapa ga dakwah? Kenapa ga berjuang? Alasan sibuk kita tak ada gunanya lagi. Pasti itu! 

Dalam hadist riwayat at-Tirmidzi sebagai berikut:

عَنْ أبي يَعْلَى شَدَّادِ بْن أَوْسٍ عن النَّبيّ ﷺ قَالَ: الكَيِّس مَنْ دَانَ نَفْسَهُ, وَعَمِلَ لِما بَعْدَ الْموْتِ, وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَه هَواهَا, وتمَنَّى عَلَى اللَّهِ رواه التِّرْمِذيُّ وقالَ: حديثٌ حَسَنٌ, وقال الترمذي وغيره من العلماء: معني (دان نفسه): أي حاسبها

Dari Syaddad bin Aus dari Nabi SAW bersabda: ”Orang yang cerdas adalah orang yang menyiapkan dirinya dan beramal untuk hari setelah kematian. Sedangkan orang yang bodoh adalah orang yang jiwanya selalu mengikuti hawa nafsunya dan hanya berangan-angan kepada Allah.”

Al-Kayyis dari akar kata kaasa yakiisu kaisan wakiyaasatan yang bermakna ‘aqala, dharufa, fathuna. Yakni memahami, mengerti, cerdas, pandai. Sedangkan dalam definisi dalam hadits di atas al-kayyis adalah orang yang menyiapkan dirinya untuk bekal kehidupannya setelah mati. Bersungguh-sungguh menjalankan amanah Allah dan Rasul-Nya dengan sebaik-baiknya.

Nah, masihkah kita mau jadikan alasan sibuk untuk tidak ngaji dan dakwah? []

PUISI : AYAH DAN KEBISUANKU



Ayah dan Kebisuanku
Oleh : Hazimah Khairunnisa'

Ayah...
Mungkin aku bukan zuriyat dari jasadmu
Aku hanya terikat menjadi anakmu dengan akad saja

Ayah...
Andai kau tahu dukaku
Jangankan untuk banyak bertanya
Apalagi menuding pakaianku dan tempat aku menuntut ilmu
Pastikan pundakmu menjadi tempat aku puas menumpahkan tangis

Ayah...
Ada banyak kata yang tak bisa aku rangkai di depanmu
Jangankan berdalih
Untuk menjawab sapamu saja ragaku dingin beku

Ayah...
Bukan karena aku tak mampu membela diri
Bukan!!!
Tapi aku paham benar siapa dia di sisi mu

Dia kebanggaanmu
Dia Zuriyatmu
Dia bagian dari harga dirimu
Sedangkan aku memanggilmu ayah hanya karena takdir bukan dari jalur nasab

Ayah...
Ampunkan kebungkamanku
Bukan bermaksud durhaka
Bukan!!!
Bukan tak pilu ketika engkau terbaring sakit
Bukan!!! 

Ayah...
Dukaku meracuni batin dan akalku
Hingga pada di suatu titik aku butuh menyepi dan mengobati luka ini sendiri
Karena aku hanyalah seorang anak yang ayah kandungnya telah lama berpulang

Selatpanjang, 05 September 2022

Sejarah, Akar Masalah, dan Cara Islam Tuntaskan HIV/AIDS

*Sejarah, Akar Masalah, dan Cara Islam Tuntaskan HIV/AIDS* Oleh: Yenni Sarinah, S.Pd (Aktivis Pendidikan Kelahiran Selatpanjang, Riau) ...